Profesor Bijan Davvaz menolak keras gagasan negosiasi dengan Zionis dan menegaskan bahwa Al Quran sudah menjawab banyak hal yang menurutnya dipakai dalam perdebatan politik. Dalam pandangannya, masalah yang berkaitan dengan Zionisme tidak bisa dilihat hanya sebagai urusan diplomasi, karena ia menempatkannya sebagai persoalan keyakinan, moral, dan penindasan.
Akademisi matematika asal Yazd, Iran, itu menarik perhatian setelah menyampaikan tantangan intelektual dan teologis kepada pihak-pihak yang memengaruhi kebijakan terkait Zionisme di beberapa negara. Pesannya juga diarahkan kepada kelompok berpengaruh, termasuk di Amerika Serikat, dengan landasan argumen yang ia sebut bersumber dari pendekatan rasional Al Quran.
Dalam pernyataannya, Davvaz memakai sejumlah ayat Al Quran untuk memperkuat serangannya. Ia mengutip Surah Al-Jumu’ah ayat 6 dan Surah Al-Baqarah ayat 94 guna mempertanyakan klaim sebagai umat pilihan Tuhan, lalu menghubungkannya dengan isu kematian yang menurutnya kerap dihindari dalam perdebatan seperti itu.
Ia juga melontarkan pertanyaan bernada menantang tentang ketakutan terhadap kematian. “Tolong beri tahu kami, mengapa kalian berlindung di tempat-tempat perlindungan karena takut mati?!!” ujarnya, sebagaimana dikutip dari presstv.ir.
Bagi Davvaz, Surah Al-Isra’ ayat 6 memiliki makna moral yang kuat dalam membaca situasi penindasan. Ia memahaminya sebagai peringatan bahwa jika suatu kaum terus berbuat kerusakan dan kedzaliman, maka Allah akan mendatangkan pihak lain untuk menghancurkan mereka di dunia ini.
Dari sudut pandang itu, ia menilai dominasi dan penindasan tidak layak dibiarkan. Argumen keagamaan tersebut ia jadikan dasar untuk menyerang legitimasi pihak yang menurutnya mempertahankan praktik zalim secara sistematis.
Sikap Davvaz terhadap negosiasi juga sangat tegas. Ia merujuk Surah Al-Baqarah ayat 120 dan menafsirkannya sebagai gambaran bahwa pihak Zionis tidak akan pernah rela sampai pihak lain mengikuti jalan mereka.
Ia kemudian memperingatkan bahwa pola perang, gencatan senjata, lalu negosiasi yang menurutnya sudah berlangsung lama justru bisa menjadi bumerang. Dalam penilaiannya, Al Quran telah menjelaskan hal itu secara terang sehingga tidak dapat dipelintir untuk kepentingan politik.
Nama Davvaz sendiri bukan sosok biasa di dunia akademik. Reputasinya dibangun melalui banyak publikasi yang sering dikutip, rujukan internasional, serta kerja sama dengan peneliti dari hampir 40 negara.
Di bagian lain pernyataannya, ia menyinggung Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump. Davvaz mengutip ayat yang menyatakan Tuhan tidak akan memberi jalan bagi orang-orang ingkar untuk menguasai orang-orang beriman, dan menggunakannya sebagai bagian dari serangan argumen terhadap pihak yang ia nilai mendukung Zionisme.
Ia juga menggambarkan Zionisme sebagai ideologi politik yang disebut dilandasi kebencian. Selain itu, ia menyebutnya sebagai gerakan kolonial pemukim yang bertanggung jawab atas puluhan tahun pendudukan militer, perampasan tanah, kebijakan apartheid, dan penindasan sistematis terhadap rakyat Palestina di wilayah pendudukan.
Pernyataan seperti itu menambah daftar suara dari kalangan akademik Iran yang memakai bahasa keagamaan untuk menyerang legitimasi politik Zionisme. Dalam kerangka yang dipakai Davvaz, Al Quran tidak hanya menjadi rujukan spiritual, tetapi juga alat untuk menyusun kritik etis terhadap pendudukan dan kebijakan yang dianggap menekan rakyat Palestina.
Sorotan terhadap Davvaz menunjukkan bagaimana seorang ilmuwan dengan reputasi internasional dapat masuk ke perdebatan geopolitik dengan bahasa teologis. Di titik ini, ayat-ayat Al Quran diposisikan sebagai senjata argumen untuk menantang klaim, legitimasi, dan strategi politik yang dikaitkan dengan Zionisme serta para pendukungnya.
Source: www.viva.co.id






