Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL di Bali dinilai sebagai langkah yang paling rasional untuk menghadapi tumpukan sampah yang belum tertangani optimal. Di saat pemilahan dari sumber masih belum berjalan maksimal, open dumping justru membuat emisi metana terus terlepas tanpa kendali.
Ketua Harian Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia (IESA), Dr. Lina Tri Mugi Astuti, menilai kondisi itu membuat PSEL relevan untuk mempercepat pengolahan sampah skala besar. Menurut dia, membiarkan sampah menumpuk terbuka hanya akan memperbesar beban lingkungan dan risiko perubahan iklim.
Risiko Open Dumping bagi Iklim
Lina menjelaskan bahwa metode open dumping berpotensi besar melepaskan gas metana secara tidak terkendali. Gas tersebut termasuk salah satu penyumbang gas rumah kaca yang berdampak langsung pada perubahan iklim.
“Ketika dilakukan open dumping, gas metana terlepas secara tidak terkendali dan berpotensi besar menyumbang gas rumah kaca. Berbeda ketika sampah dikelola melalui PSEL,” ujar Lina di Jakarta, Rabu (8/7), seperti dikutip mediaindonesia.com.
Teknologi Pengolahan dan Pengendalian Emisi
Meski ada sejumlah pilihan lain seperti biogas dan pirolisis, Lina menyebut insinerasi sebagai opsi yang rasional untuk mempercepat pengolahan sampah skala besar di Bali. Namun, teknologi itu tetap harus disertai sistem pengendalian emisi yang teruji agar tidak memunculkan persoalan baru.
Ia juga menekankan pentingnya penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau Amdal yang tidak dibuat secara salin-tempel. Amdal harus disusun serius sesuai kondisi lokal, lalu diawasi melalui pengawasan lingkungan yang konsisten dan audit berkala.
| Aspek | Catatan IESA | Relevansi bagi PSEL Bali |
|---|---|---|
| Open dumping | Metana terlepas tidak terkendali | Meningkatkan emisi gas rumah kaca |
| Insinerasi | Dipandang rasional untuk skala besar | Mempercepat pengolahan sampah |
| Sistem pengendalian emisi | Harus teruji | Menjaga operasional tetap ramah lingkungan |
| Amdal | Harus sesuai kondisi lokal | Mendukung pengawasan dan kepatuhan lingkungan |
Hulu dan Hilir Perlu Bergerak Bersamaan
Di tengah dorongan membangun PSEL, Lina mengingatkan agar semangat ekonomi sirkular tetap dijaga. Pengurangan sampah di hulu dan pengolahan di hilir disebut harus berjalan beriringan agar keberlanjutan benar-benar tercapai.
Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah juga dinilai tetap krusial. Kadar kelembapan sampah yang tinggi dapat memengaruhi efisiensi energi yang dihasilkan, sehingga PSEL tidak bisa diperlakukan sebagai pengganti penuh upaya pengurangan sampah dari awal rantai.
“Harus ada keseimbangan antara ekonomi sirkular di hulu dengan PSEL. Keduanya harus berjalan bersamaan untuk menjamin keberlanjutan,” kata Lina.
Manfaat Ekonomi dan Tata Kelola yang Ketat
Selain manfaat lingkungan, proyek PSEL Bali juga diharapkan memberi efek berganda bagi ekonomi lokal, termasuk penciptaan lapangan kerja. Karena itu, tata kelolanya diminta transparan dan bersih sejak proses pengadaan hingga pengoperasian.
Lina berharap investor dapat bekerja profesional dan memenuhi standar lingkungan yang telah ditetapkan. Dengan pengawasan yang ketat, PSEL Bali diharapkan tidak hanya menjadi solusi teknis atas sampah, tetapi juga bagian dari pengelolaan lingkungan yang lebih tertib dan terukur.
