PSIM Masih Tumpul Di Depan Gawang, Persita Pulangkan Tiga Poin Dari Bantul

Author: Redaksi Android62
Add on Google

PSIM Yogyakarta kembali gagal memaksimalkan laga kandang saat menjamu Persita Tangerang di Stadion Sultan Agung, Bantul, pada pekan ke-30 Super League 2025/2026. Laskar Mataram harus menerima kekalahan tipis 0-1, hasil yang kembali menyorot persoalan lama mereka: penyelesaian akhir yang belum membaik.

Di hadapan pendukung sendiri, PSIM memang lebih sering menguasai bola dan sempat membangun beberapa tekanan. Namun, dominasi itu tidak berubah menjadi gol, sehingga tim asal Yogyakarta tersebut kembali pulang tanpa poin dan belum juga meraih kemenangan kandang.

Persita dapat hasil dari peluang pertama

Pertandingan berjalan dengan pola yang cukup jelas sejak awal. Persita tidak menciptakan banyak peluang, tetapi satu kesempatan awal mereka langsung berbuah gol pembuka.

Keunggulan itu kemudian menjadi penentu jalannya laga sampai akhir. Setelah memimpin, Persita menurunkan garis pertahanan dan memilih rapat di belakang untuk menutup ruang serangan PSIM.

PSIM pegang bola, tetapi buntu di area berbahaya

Situasi tersebut membuat PSIM lebih sering memegang bola. Meski begitu, aliran serangan mereka kerap terhenti ketika sudah masuk ke area sepertiga akhir, karena blok pertahanan lawan sangat sulit ditembus.

PSIM mencoba menyerang dari beberapa sisi untuk mencari celah. Tetapi, ancaman yang dibangun belum cukup tajam dan peluang yang tercipta tidak berubah menjadi gol penyeimbang.

Van Gastel soroti masalah yang terus berulang

Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean Paul Van Gastel, menilai timnya kembali gagal memaksimalkan kesempatan yang ada. Ia menegaskan bahwa masalah penyelesaian akhir masih menjadi kendala utama yang muncul dari pertandingan ke pertandingan.

“Kami kebobolan di menit-menit awal dari peluang pertama Persita. Kemudian mereka bermain dengan low block dan sulit ditembus meski sebenarnya kami bisa menciptakan beberapa peluang,” kata Van Gastel.

Menurut pelatih asal Belanda itu, PSIM sudah mencoba meningkatkan tekanan setelah tertinggal. Namun, upaya tersebut tetap belum cukup karena para pemain depan tidak mampu mengubah peluang menjadi gol.

“Selalu dapat kesulitan dalam penyelesaian akhir dari peluang yang ada. Ini yang jadi masalah,” ucapnya.

Penyelamatan Cahya Supriadi sempat jaga asa

Di tengah situasi sulit, PSIM sempat mendapatkan momen penting lewat Cahya Supriadi. Kiper muda itu melakukan penyelamatan saat Persita mendapat penalti dan menjaga peluang timnya untuk mengejar ketertinggalan.

Momen tersebut sempat memberi harapan bagi kubu tuan rumah. Tetapi setelah peluang itu berlalu, PSIM tetap tidak mampu menemukan gol yang dibutuhkan hingga pertandingan berakhir.

Tren kandang belum bergerak ke arah positif

Kekalahan dari Persita memperpanjang catatan tanpa kemenangan PSIM menjadi tujuh pertandingan beruntun. Dalam lima laga terakhir, Laskar Mataram juga menelan empat kekalahan, yang memperlihatkan performa tim masih jauh dari stabil.

Di klasemen sementara, PSIM berada di posisi ke-11 dengan 39 poin. Catatan itu masih memberi ruang untuk memperbaiki keadaan, tetapi hasil di kandang sendiri menunjukkan bahwa pekerjaan rumah tim belum selesai.

Efektivitas jadi pembeda utama laga

Laga ini memperlihatkan perbedaan yang mencolok antara kedua tim. Persita tampil lebih efisien karena mampu mencetak gol dari kesempatan awal, lalu menjaga keunggulan dengan disiplin bertahan.

PSIM justru berada di sisi sebaliknya. Mereka lebih sering menguasai permainan, tetapi gagal tajam saat memasuki area akhir dan kembali kesulitan ketika lawan menutup ruang dengan rapat.

Masalah yang terus berulang itu membuat PSIM harus segera mencari solusi di lini depan. Tanpa perbaikan pada penyelesaian akhir, dominasi permainan di kandang akan terus berisiko berakhir tanpa hasil yang diharapkan.

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terbaru