PSSI menempatkan pembenahan liga sebagai bagian penting dari jalan panjang menuju Piala Dunia 2030. Erick Thohir menegaskan bahwa tim nasional tidak bisa dibangun dengan berdiri sendiri, karena kualitas kompetisi domestik ikut menentukan kesiapan pemain sepanjang musim.
Pernyataan itu disampaikan Erick dalam diskusi Water Break PSSI Pers bertajuk “96 Tahun PSSI: Fondasi Piala Dunia 2030” di GBK Arena, Jakarta. Di forum itu, federasi menilai ulang arah pembangunan sepak bola nasional agar tim nasional dan liga bergerak dalam satu kerangka yang sama.
Kalender kompetisi jadi sorotan utama
Erick menilai salah satu persoalan yang paling berat adalah benturan jadwal antara kompetisi domestik dan agenda tim nasional. Menurut dia, kalender sepak bola Indonesia kini makin padat dan rumit, sehingga PSSI perlu mencari titik seimbang yang tetap realistis.
Ia menyebut Super League 2025/2026 akan disesuaikan dengan kebutuhan tim nasional Indonesia. Penyesuaian itu juga berkaitan dengan partisipasi di AFF yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026.
Erick bahkan memberi penekanan bahwa liga perlu memberi ruang lebih besar bagi kepentingan tim nasional. “Kalender yang kompleks ya, jadi tantangan bagi federasi khususnya, untuk dua tahun ini ya khususnya, mohon maaf liganya ngalah sedikit, karena ada AFF. Nah itulah dinamika kita dalam membangun sepak bola,” ujarnya.
Dua sektor yang harus tumbuh seimbang
Menurut Erick, PSSI juga sedang mengevaluasi dua sektor utama secara bersamaan, yakni tim nasional dan liga. Keduanya tidak bisa dipisahkan, karena pembangunan sepak bola nasional akan timpang jika hanya kuat di salah satu sisi.
Federasi yang kuat, kata Erick, harus ditopang oleh liga yang kuat pula. Karena itu, pembinaan pemain, kualitas pertandingan, dan kesiapan tim nasional harus berjalan dalam arah yang sama dan tidak saling bertabrakan.
Dalam kerangka itu, kalender kompetisi perlu mengikuti agenda tim nasional secara terukur. Klub dan federasi juga diminta menyepakati ulang jadwal dengan lebih disiplin agar kompetisi tetap sehat dan tetap kompetitif.
Berikut poin yang ditekankan PSSI dalam penataan ini:
- Kalender liga harus selaras dengan agenda tim nasional.
- Kualitas kompetisi tetap dijaga meski ada penyesuaian jadwal.
- Klub dan federasi perlu menyepakati ulang jadwal secara disiplin.
- Evaluasi rutin dibutuhkan agar sistem kompetisi tetap sehat.
- Kolaborasi jangka panjang menjadi dasar menuju target Piala Dunia 2030.
Kualitas liga ikut menentukan kekuatan tim nasional
Erick juga mengingatkan bahwa liga yang sehat akan berdampak langsung pada performa tim nasional Indonesia. Pemain yang rutin tampil di kompetisi yang kuat dan kompetitif dinilai lebih siap ketika dipanggil membela negara.
Dalam rapat Executive Committee PSSI, Erick menyebut ada perbaikan pada posisi kompetisi Indonesia di AFC. Peringkat Indonesia naik dari 25 menjadi 18, dan capaian itu dinilai masih perlu dioptimalkan lewat pembenahan menyeluruh.
“Ranking 25, sekarang naik 18. Ini dapat kita optimalkan dengan perbaikan menyeluruh agar kualitas kompetisi nasional benar-benar kuat,” kata Erick.
Ia juga menjelaskan bahwa AFC cenderung menilai kualitas liga dari prestasi klub di level Asia. Karena itu, hasil klub Indonesia di kompetisi antarklub Asia ikut memengaruhi citra liga nasional secara keseluruhan.
Pekerjaan rumah belum selesai
Meski ada perkembangan, PSSI masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Tata kelola, licensing klub, dukungan teknologi, dan standar penyelenggaraan kompetisi masih perlu diperkuat agar sistem pembinaan berjalan lebih modern.
PSSI memandang target menuju Piala Dunia 2030 harus dibangun dari fondasi yang rapi dan berkelanjutan. Liga yang sehat, kalender yang tertib, klub yang profesional, serta sinergi yang konsisten menjadi syarat agar tim nasional Indonesia bisa berkembang stabil dari musim ke musim.
Source: bola.bisnis.com






