Upaya mengendalikan diabetes tipe 2 di Indonesia dinilai tidak bisa lagi bergantung pada obat semata. Sejumlah pihak menilai pengobatan perlu dipadukan dengan perubahan pola hidup, pemantauan rutin, dan evaluasi kondisi metabolik agar hasilnya tidak hanya terasa sesaat.
Dorongan itu muncul di tengah jumlah penderita diabetes di Indonesia yang masih sangat besar. Berdasarkan data International Diabetes Federation yang dikutip dalam artikel referensi, Indonesia masih menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah penderita mencapai puluhan juta jiwa.
Obat dinilai penting, tetapi bukan satu-satunya jawaban
Dokter sekaligus pengembang ekosistem kesehatan terintegrasi, Kelvin Candiago, menilai situasi ini sebagai sinyal bahwa penanganan diabetes masih terlalu berpusat pada obat. Menurut dia, terapi memang dibutuhkan untuk membantu menstabilkan kondisi awal pasien, tetapi penyakit ini tidak akan terkendali baik jika hanya melihat angka gula darah.
Kelvin menekankan bahwa diabetes tipe 2 juga dipengaruhi banyak faktor lain, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, komposisi tubuh, hingga kepatuhan menjalani pemantauan secara rutin. Karena itu, ia memandang medikasi seharusnya menjadi jembatan untuk membantu pasien masuk ke fase penanganan yang lebih menyeluruh, bukan tujuan akhir.
Pandangan itu juga ia kaitkan dengan pengalamannya mendampingi ayahnya yang hidup dengan diabetes dan komplikasi jantung. Ditambah pengalaman klinis menangani ribuan pasien, hal itu membuatnya melihat bahwa perbaikan gula darah tidak selalu berarti kondisi metabolik ikut pulih.
Kebutuhan pendekatan yang lebih bertahap
Untuk menjawab tantangan itu, Kelvin memperkenalkan Protokol 3R bagi pasien diabetes tipe 2. Kerangka ini disusun bertahap agar penanganan bisa menyesuaikan kondisi pasien dari awal hingga pemeliharaan jangka panjang.
Tahap pertama adalah Road to Rescue, yaitu fase stabilisasi cepat saat kadar gula darah masih naik turun. Fokus utamanya adalah menekan risiko akut dan mencegah kondisi pasien memburuk lebih jauh.
Tahap berikutnya disebut Road to Reverse. Pada fase ini, penanganan diarahkan pada perbaikan metabolik melalui perubahan gaya hidup dan intervensi klinis yang terukur, dengan target menurunkan HbA1c hingga mendekati normal.
Tahap ketiga adalah Road to Remission. Di fase ini, targetnya menjaga HbA1c di bawah atau sama dengan 6,5 persen dalam periode tertentu, dengan atau tanpa obat, sehingga kontrol penyakit menjadi lebih stabil.
Hasil awal yang sudah terlihat
Kelvin menyebut protokol tersebut telah dijalankan melalui ekosistem layanan kesehatan terintegrasi mGanik sejak 2023. Berdasarkan data internal yang ia sampaikan, sekitar 500 pasien diabetes telah mencapai tahap reverse melalui pendekatan itu.
Dari jumlah tersebut, sekitar 7 persen hingga 10 persen pasien disebut berhasil memenuhi kriteria klinis ketat untuk masuk fase remisi. Meski begitu, ia menegaskan bahwa hasil seperti ini tidak terjadi secara instan karena tetap membutuhkan kedisiplinan pasien, pendampingan medis, dan konsistensi perubahan gaya hidup.
mGanik sendiri disebut sebagai ekosistem solusi kesehatan yang berfokus pada diabetes dan penyakit metabolik. Layanannya mencakup edukasi medis, nutrisi terstruktur, klinik spesialis, dan dukungan komunitas bagi pasien.
Tantangan pengendalian diabetes di lapangan
Tingginya beban diabetes membuat penanganan di Indonesia dinilai perlu lebih adaptif. Fokus tidak cukup hanya pada terapi di fasilitas kesehatan, tetapi juga perlu diperkuat lewat deteksi dini, edukasi masyarakat, dan pendampingan perilaku sehari-hari.
Pendekatan yang lebih komprehensif menjadi penting karena diabetes tipe 2 terkait dengan obesitas, pola makan tinggi gula dan kalori, kurang aktivitas fisik, stres, serta faktor genetik. Jika faktor-faktor itu tidak ikut dibenahi, hasil pengobatan sering kali hanya memberi kendali sementara.
Karena itu, beberapa aspek yang dinilai perlu diperkuat meliputi skrining dini di layanan primer dan komunitas, edukasi diet dan aktivitas fisik, pemantauan HbA1c secara rutin, kolaborasi dokter dan ahli gizi, serta tindak lanjut jangka panjang untuk mencegah komplikasi. Dengan jumlah penderita yang masih tinggi, pengendalian diabetes kini dipandang perlu bergeser dari sekadar menekan gula darah menuju sistem penanganan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Source: www.viva.co.id






