Puluhan Warga Peru Diduga Dipikat Kontrak Rusia, Berakhir Di Medan Perang Ukraina

Author: Redaksi Android62

Kasus perekrutan warga Peru untuk ikut perang di Ukraina kini masuk ke penyelidikan resmi di negaranya. Otoritas Peru menyorot dugaan jaringan perdagangan manusia yang memanfaatkan janji kerja di Rusia untuk mengarahkannya ke kontrak militer dan medan tempur.

Yang membuat kasus ini menonjol adalah pola tawaran yang terdengar biasa, tetapi berujung pada situasi perang asing. Jaksa agung Peru menyebut dugaan itu berkaitan dengan lowongan palsu untuk posisi seperti agen keamanan dan pekerjaan lain, dengan iming-iming kompensasi finansial yang kemudian diduga berubah menjadi ikatan ke militer Rusia.

Tawaran kerja yang berujung pertempuran

Penyelidikan di Peru kini berfokus pada dugaan human trafficking dan aggravated human trafficking. Para korban diduga dijanjikan penghasilan tinggi, lalu diarahkan untuk menandatangani kontrak yang membawa mereka ke struktur militer Rusia, bukan ke pekerjaan sipil seperti yang dijelaskan di awal.

Pengacara Percy Salinas, yang mewakili keluarga warga Peru yang berakhir di garis depan Ukraina, mengatakan kepada stasiun TV lokal N bahwa 13 warga Peru telah tewas dalam perang tersebut. Ia juga menyebut sekitar 600 warga Peru diduga telah dipikat sejak Oktober lalu untuk bertempur bagi Rusia.

Salinas mengatakan para calon direkrut dengan tawaran gaji bulanan antara US$2.000 hingga US$3.000. Angka itu memperkuat dugaan bahwa sebagian warga Peru tidak memahami sepenuhnya risiko dari kontrak yang mereka tandatangani.

Tekanan keluarga dan respons diplomatik

Di Lima, keluarga sejumlah korban turun ke jalan dan menggelar protes di luar Kementerian Luar Negeri pada Kamis. Mereka menuntut agar kerabat mereka dipulangkan setelah mengaku direkrut dengan cara menyesatkan dan dikirim ke Ukraina.

Kementerian Luar Negeri Peru mengatakan telah meminta kedutaan Rusia di Lima memberi penjelasan serta informasi tentang lokasi dan kondisi warga Peru yang bertugas di militer Rusia. Kementerian itu juga menegaskan bahwa warga Peru wajib meminta izin sebelum bergabung dengan militer asing.

Pada saat yang sama, kedutaan Rusia di Lima pada Kamis mengakui bahwa warga Peru telah menandatangani kontrak untuk bergabung dengan angkatan bersenjata Rusia. Pernyataan itu menambah perhatian terhadap sejauh mana warga asing direkrut untuk memperkuat pasukan Rusia dalam perang tersebut.

Sorotan yang meluas di luar Peru

Peru kini menjadi salah satu negara terbaru yang menyampaikan keluhan terhadap Rusia soal perekrutan warga asing secara menyesatkan untuk bertempur di Ukraina. Kasus ini juga memperlihatkan bahwa isu serupa tidak berhenti di satu wilayah saja.

Ukraina pada Februari memperkirakan lebih dari 1.780 warga dari 36 negara Afrika ikut berperang bersama pasukan Rusia. Rusia sebelumnya juga mengakui telah merekrut tentara dari Korea Utara, sementara ribuan di antaranya diperkirakan tewas atau terluka dalam pertempuran sebagai bagian dari pakta militer antara Moskow dan Pyongyang.

Di Peru, penyidikan yang berjalan kini menjadi ujian bagi upaya melindungi warga dari jaringan perekrutan yang diduga memanfaatkan janji kerja untuk mengirim mereka ke perang. Di tengah proses itu, keluarga para korban masih menunggu kejelasan soal nasib orang-orang terdekat mereka.

Berita Terbaru