BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di NTB akan terjadi pada Juli hingga Agustus, saat suhu malam dan pagi hari berpeluang terasa lebih menusuk. Pada fase itu, udara dingin dan kering dari selatan diperkirakan masih terus memengaruhi wilayah ini sebelum perlahan melemah menjelang akhir September.
Perubahan suhu yang mulai terasa sekarang menjadi sinyal awal bahwa NTB sedang bergerak mendekati fase kemarau terkuatnya. Kondisi malam yang lebih sejuk ini terutama muncul karena penguatan monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering lebih banyak ke Indonesia bagian selatan.
Di NTB, penurunan suhu minimum sudah tampak jelas dari waktu ke waktu. BMKG mencatat suhu udara minimum rata-rata pada April 2026 masih berada di kisaran 23 hingga 24 derajat Celcius, lalu turun menjadi 18 hingga 21 derajat Celcius pada awal Juni 2026.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Ari Wibianto, menyebut pola tersebut lazim muncul ketika kemarau mendekati puncaknya. Menurut dia, udara malam yang menggigil di NTB tidak berdiri sendiri, melainkan terkait langsung dengan dinamika atmosfer di Indonesia bagian selatan.
Pengaruh monsun timur yang kering juga ikut memperkuat kondisi itu. Ari menjelaskan, sirkulasi angin tersebut menekan pertumbuhan awan konvektif sehingga peluang hujan di NTB ikut turun drastis.
Saat awan berkurang, langit cenderung lebih bersih dan udara malam lebih cepat kehilangan panas. Itulah yang membuat wilayah selatan Indonesia, termasuk NTB, lebih mudah merasakan suhu minimum yang menurun pada malam hingga pagi hari.
BMKG menyampaikan bahwa pengaruh udara dingin ini belum akan hilang dalam waktu dekat. Selama beberapa bulan ke depan, suhu di NTB masih berpotensi terasa lebih rendah, terutama di area terbuka dan lokasi yang jauh dari pengaruh kelembapan tinggi.
Namun, kondisi itu diperkirakan tidak berlangsung selamanya. Memasuki akhir September 2026, kekuatan monsun Australia diprediksi melemah karena benua tersebut mulai beralih dari musim dingin menuju musim semi.
Ketika Australia perlahan menghangat, suplai udara dingin dan kering ke Indonesia selatan juga ikut berkurang. Pada saat itu, suhu malam hingga pagi hari di NTB berpeluang naik kembali setelah melewati periode paling dingin pada musim kemarau.
Source: mediaindonesia.com






