Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Untuk Meredam Gejolak Rupiah Dan Obligasi

Author: Redaksi Android62

Pemerintah menyiapkan langkah cepat untuk meredam gejolak di pasar keuangan setelah rupiah sempat menyentuh Rp17.515 per dolar Amerika Serikat. Fokus awal diarahkan ke pasar obligasi lewat Bond Stabilization Fund atau BSF agar tekanan pada surat utang tidak semakin menjalar ke nilai tukar.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah akan mulai membantu pasar obligasi pada Rabu (13/5). Menurut dia, dana stabilisasi masih tersedia dan dapat dipakai untuk menahan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah yang sedang tertekan.

Menahan lonjakan yield di pasar surat utang

Purbaya menjelaskan bahwa stabilisasi obligasi menjadi penting karena kenaikan yield yang terlalu tinggi dapat memicu capital loss bagi investor asing. Jika itu terjadi, arus keluar dana asing berisiko membesar dan menambah tekanan pada rupiah.

Melalui BSF, pemerintah atau lembaga terkait dapat membeli kembali Surat Berharga Negara saat tekanan jual meningkat. Aksi buyback itu ditujukan agar pasar bergerak lebih tenang dan kenaikan yield tidak berlangsung liar.

Ia menegaskan pemerintah belum akan menggunakan seluruh dana BSF yang tersedia. Ruang fiskal yang masih ada disebut memberi keleluasaan bagi pemerintah untuk melakukan intervensi bertahap sesuai kebutuhan pasar.

Menjaga investor asing tetap bertahan

Upaya menstabilkan pasar obligasi juga diarahkan untuk menjaga minat investor asing. Purbaya menilai, selama yield bisa dikendalikan, peluang masuknya kembali investor ke pasar Indonesia masih terbuka.

Menurut dia, kondisi di pasar surat utang punya pengaruh langsung ke sentimen investasi. Saat yield melonjak, pemegang obligasi asing bisa mengalami capital loss dan memilih keluar dari pasar domestik.

“Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar,” kata Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5). Dari situ, pemerintah melihat pengendalian pasar obligasi sebagai salah satu cara untuk mencegah efek berantai ke rupiah.

APBN disebut masih aman

Meski rupiah sudah bergerak di atas asumsi APBN 2025 yang sebesar Rp16.500 per dolar AS, Purbaya menilai kondisi fiskal negara tetap terkendali. Ia mengatakan skenario pelemahan rupiah di atas asumsi dasar itu sudah diperhitungkan sejak awal.

“APBN-nya masih relatif aman. Tapi kita akan kendalikan nilai tukar, kita akan coba membantu nilai tukar,” ujarnya. Pemerintah, kata dia, akan mendukung stabilisasi tanpa mengambil alih peran Bank Indonesia.

Purbaya juga menegaskan bahwa otoritas utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar tetap berada di bank sentral. Langkah pemerintah lewat BSF diposisikan sebagai dukungan agar tekanan di pasar surat utang tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar pada kurs.

Dukungan bagi stabilitas rupiah

Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap gejolak di pasar obligasi tidak memicu tekanan lanjutan ke rupiah. Stabilnya yield diharapkan bisa membantu meredam kepanikan pasar dan memperkuat kepercayaan investor.

Di saat yang sama, pemerintah ingin memberi sinyal bahwa ruang stabilisasi masih tersedia. Selama tekanan di pasar surat utang bisa dikendalikan, rupiah dinilai berpeluang memperoleh dukungan tambahan dari meredanya arus keluar dana asing.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru