Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan anggaran pendapatan dan belanja negara tidak berada dalam kondisi rapuh seperti yang ramai dibicarakan. Ia membantah kabar bahwa APBN hanya mampu bertahan tiga bulan dan menyebut kondisi fiskal nasional masih terjaga ketat.
Purbaya menilai narasi tersebut muncul dari riuh informasi yang membentuk persepsi negatif di publik. Menurut dia, kondisi keuangan negara tidak sedang berada di bawah tekanan berat seperti yang digambarkan dalam percakapan liar tersebut.
Di tengah perbincangan soal fiskal, pemerintah juga tidak lagi menaruh perhatian pada sejumlah wacana pajak yang sempat beredar. Purbaya menyebut pembahasan mengenai pajak orang kaya, PPN untuk jalan tol, dan skema lain yang pernah muncul di ruang publik sudah bukan agenda pemerintah.
Ia menegaskan fokus utama saat ini adalah merapikan sistem yang sudah ada agar penerimaan negara lebih terjaga. Pemerintah juga menaruh perhatian besar pada pengurangan kebocoran, sehingga tata kelola fiskal bisa berjalan lebih efektif tanpa menambah polemik baru.
“Lebih baik saya rapikan yang ada sekarang dan kurangi kebocorannya semaksimal mungkin,” ujar Purbaya.
Pengawasan diperketat
Purbaya mengakui masih ada peluang kebocoran di dalam sistem perpajakan. Karena itu, pengawasan internal dibuat lebih ketat agar potensi penyimpangan bisa segera terdeteksi sebelum menimbulkan dampak yang lebih besar.
Ia menyebut langkah tegas perlu diambil ketika ada angka atau pola yang terlihat tidak wajar. Dalam penjelasannya, pegawai yang menunjukkan indikasi kejanggalan dapat langsung dipindahkan untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan.
“Kalau kelihatan agak aneh dari angka-angka, kita langsung mutasi dengan cepat,” kata Purbaya.
Komunikasi di internal kementerian ikut dibenahi
Selain pengawasan, Purbaya juga menyoroti alur komunikasi di lingkungan Kementerian Keuangan. Ia menilai koordinasi yang kurang rapi sebelumnya ikut membuat sentimen negatif semakin mudah berkembang karena informasi penting tidak segera sampai ke pimpinan.
Untuk itu, pelaporan internal sedang ditata ulang supaya persoalan strategis bisa cepat diteruskan ke level pengambil keputusan. Dengan mekanisme seperti ini, masalah yang berpotensi besar diharapkan tidak melebar menjadi isu liar di ruang publik.
“Pelaporan saya akan saya buat bagus, sehingga setiap ada masalah yang penting, mereka laporkan ke saya,” ujarnya.
Sentimen negatif dinilai memperkeruh keadaan
Purbaya menilai kabar soal APBN hanya bertahan tiga bulan bukan berasal dari pembacaan data yang utuh. Ia melihat isu tersebut lebih banyak dibentuk oleh sentimen negatif yang lahir dari kuatnya noise di tengah masyarakat.
Menurut dia, persepsi yang salah bisa memunculkan kekhawatiran berlebihan jika tidak segera diluruskan dengan penjelasan yang lebih tertib. Karena itu, pemerintah disebut sedang memperbaiki cara penyampaian informasi agar publik bisa memahami kondisi anggaran secara lebih akurat.
Penjelasan yang rapi dinilai penting supaya pembahasan fiskal tidak bergeser menjadi kepanikan yang tidak perlu. Pemerintah ingin memastikan informasi mengenai APBN dibaca berdasarkan kondisi yang sebenarnya, bukan dari kabar yang terlanjur membesar.
Pandangan luar negeri masih positif
Di saat sentimen negatif ramai di dalam negeri, Purbaya tetap menyoroti bahwa penilaian sejumlah lembaga internasional terhadap Indonesia masih positif. Ia menyebut JPMorgan Chase, Islamic Development Bank, dan S&P Global Ratings masih melihat kondisi ekonomi Indonesia dengan baik.
Perbedaan antara penilaian lembaga global dan persepsi publik, menurut dia, menunjukkan pentingnya data yang akurat. Karena itu, pemerintah akan terus mengurangi gangguan informasi agar pembicaraan mengenai APBN kembali bertumpu pada kondisi nyata.
Dengan pengawasan yang diperketat, komunikasi internal yang dibenahi, dan fokus pada perbaikan sistem, fiskal nasional disebut tetap berada dalam jalur yang terkendali. Purbaya menegaskan isu bahwa APBN hanya mampu bertahan tiga bulan tidak mencerminkan keadaan sebenarnya yang sedang dihadapi negara.
