Purnama Kedua di Mei 2026 Muncul di Akhir Bulan, Bulan Tetap Tak Berwarna Biru

Di akhir Mei 2026, langit malam akan menghadirkan purnama yang bukan hanya datang sekali, melainkan menjadi purnama kedua dalam satu bulan kalender. Momen ini jatuh pada 31 Mei 2026 dan termasuk Calendrical Blue Moon, sehingga layak menjadi salah satu agenda pengamatan langit yang paling menarik di penghujung bulan.

Meski namanya Blue Moon, Bulan tidak akan tampak berwarna biru. Saat mencapai puncaknya, Bulan tetap terlihat putih kekuningan seperti purnama pada umumnya, karena sebutan tersebut merujuk pada posisi kalender, bukan warna fisik Bulan.

Fenomena ini terjadi setelah purnama pertama muncul pada 1 Mei 2026. Karena itu, Blue Moon Mei 2026 menjadi purnama kedua dalam bulan yang sama, sebuah kejadian yang umumnya hanya hadir sekitar 2,5 hingga 3 tahun sekali.

Selain statusnya yang langka, purnama akhir bulan ini juga diperkirakan menjadi full moon terkecil sepanjang 2026. Ukurannya disebut sekitar 5,5 persen lebih kecil dan 10,5 persen lebih redup dibanding purnama rata-rata.

Perbedaan itu berkaitan dengan posisi Bulan yang sedang lebih jauh dari Bumi. Dari sudut pandang pengamat, kondisi tersebut membuat Bulan terlihat sedikit mengecil dan tidak seterang purnama pada umumnya.

Ada pula daya tarik lain yang ikut mewarnai pemandangan langit tersebut, yaitu kedekatan visual Bulan dengan Antares. Bintang merah terang ini dikenal sebagai “jantung” konstelasi Scorpius dan masih dapat dilihat langsung dengan mata telanjang.

Kombinasi purnama dan Antares membuat langit malam terlihat lebih hidup saat fenomena berlangsung. Bagi penggemar langit, perpaduan dua objek terang ini menjadi salah satu bagian paling menarik dari pengamatan akhir Mei.

Puncak fase purnama diperkirakan terjadi pada Minggu, 31 Mei 2026, saat Bulan berada di posisi berlawanan dengan Matahari jika dilihat dari Bumi. Pada posisi itu, seluruh sisi Bulan yang menghadap Bumi menerima cahaya Matahari secara penuh.

Waktu puncak iluminasi tercatat pada pukul 08.45 UTC, atau 15.45 WIB, 16.45 WITA, dan 17.45 WIT. Artinya, fenomena ini masih bisa diamati dari Indonesia saat sore hingga malam hari.

Pengamatan tidak memerlukan alat bantu khusus, selama langit terbuka dan minim polusi cahaya. Kondisi tersebut membantu Bulan terlihat lebih jelas dan nyaman dilihat oleh mata.

Jika ingin melihat detail permukaan, binokular dapat digunakan untuk mengamati area gelap Bulan atau lunar maria. Teleskop juga bisa memperlihatkan kawah dengan lebih jelas, meski moon filter disarankan karena cahaya purnama cukup menyilaukan.

Untuk yang ingin memotret lewat ponsel, fokus bisa dikunci ke Bulan dengan menyentuh layar. Exposure sebaiknya diturunkan agar hasil foto tidak terlalu terang, lalu gunakan timer 2—3 detik supaya gambar tidak blur akibat gerakan tangan.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait