Pusat Data Bawah Laut China Ditopang Angin, Hemat Ruang, Dingin Alami, Dan Air Tawar

China sedang menguji cara baru untuk membuat data center yang lebih hemat ruang, air, dan energi. Alih-alih membangun fasilitas besar di darat, Shanghai menempatkan pusat komputasi itu di bawah laut, tepat di dekat ladang turbin angin di lepas pantai.

Langkah ini muncul karena data center modern membutuhkan banyak lahan untuk server, pendingin, jaringan listrik, cadangan daya, dan perangkat pendukung lain. Dengan memindahkan sebagian beban itu ke laut, proyek di Shanghai mencoba mengatasi tiga persoalan sekaligus: listrik, pendinginan, dan penggunaan lahan.

Di bawah laut, di samping sumber energi angin

Pusat data tersebut berada sekitar 32 kaki di bawah permukaan laut di Lin-gang Special Area. Lokasinya tidak jauh dari kawasan yang memiliki lebih dari 50 turbin angin, sehingga suplai energi dari sekitar proyek menjadi bagian penting dari rancangan operasinya.

Shanghai Hailanyun Technology atau HiCloud bersama sejumlah lembaga pemerintah meluncurkan proyek itu pada Mei 2026. Fasilitas tersebut disebut sebagai data center bawah laut bertenaga angin pertama di dunia, dengan target operasi penuh pada kapasitas 24 megawatt.

Bagi kota besar seperti Shanghai, pendekatan ini menawarkan keuntungan yang tidak dimiliki banyak fasilitas darat. Wilayah di sekitarnya dihuni sekitar 31 juta orang, tetapi jejak lahan proyek tetap kecil karena sebagian infrastruktur dipindahkan ke laut.

Pendinginan alami jadi alasan utama

Air laut memberi keunggulan besar dalam urusan suhu. Karena berada di bawah laut, sistem ini dapat tetap dingin dengan penggunaan air tawar yang minimal, padahal data center berbasis darat bisa menghabiskan hingga 40% energinya hanya untuk menjaga suhu tetap rendah.

Fasilitas bawah laut di Shanghai menampung sekitar 2.000 server. Jumlah itu masih berada di kategori kecil hingga menengah, karena data center hyperscale besar dapat menampung sedikitnya 5.000 server.

Meski begitu, proyek ini bukan sekadar uji coba kecil. HiCloud menyebutnya sebagai jawaban atas tiga kebutuhan utama industri data center, yakni listrik, pendinginan, dan lahan, dengan biaya proyek mencapai 228 juta dolar AS.

Jejak awal dari proyek Hainan

Sebelum proyek Shanghai, HiCloud sudah lebih dulu menjalankan teknologi serupa di lepas pantai provinsi Hainan pada 2023. Desain modul bawah laut itu dibuat agar tahan terhadap tekanan laut dan mencegah kelembapan serta oksigen masuk ke dalam sistem.

Perusahaan menyebut fasilitas di Hainan telah menghemat sekitar 26.000 ton air. HiCloud juga mengklaim pengurangan emisinya setara dengan menyingkirkan 600 mobil dari jalan selama setahun.

Seorang juru bicara kepada People’s Daily mengatakan suhu air di sekitar fasilitas tersebut naik kurang dari satu derajat Celsius. HiCloud juga menyebut ikan-ikan berkumpul di sekitar modul dan memanfaatkannya sebagai tempat berlindung dari arus yang lebih kuat.

Tantangan laut tetap besar

Di balik efisiensinya, lingkungan laut membawa risiko yang tidak ringan. Air asin dapat mempercepat korosi pada fasilitas dan kabel bawah laut yang memasok daya, sementara tekanan air terus-menerus menuntut penyegelan dan ketahanan yang lebih kuat.

Perawatan juga menjadi lebih sulit karena perangkat berada jauh di bawah permukaan dan tidak mudah dijangkau. Pengalaman Microsoft Project Natick di lepas pantai Skotlandia menunjukkan bahwa pod yang diangkat ke darat bisa tertutup alga, teritip, anemon laut, dan bulu babi.

Pendiri perusahaan induk HiCloud, Highlander, terinspirasi oleh eksperimen Microsoft tersebut. Dalam Project Natick yang dimulai pada 2018, Microsoft menjalankan 855 server tanpa intervensi manusia selama lebih dari dua tahun, dengan hanya enam server yang rusak.

Pada saat yang sama, Microsoft memiliki 135 server berbasis darat untuk kebutuhan pemrosesan serupa dan delapan di antaranya rusak. Tim Microsoft menilai lingkungan tertutup membantu menstabilkan suhu, mencegah masuknya oksigen, dan menghilangkan gangguan manusia.

HiCloud menargetkan fasilitas bawah lautnya bisa bertahan hingga 25 tahun. Namun, dampak jangka panjang terhadap kehidupan laut masih belum sepenuhnya jelas, sehingga ekspansi model ini tetap menyisakan pertanyaan yang perlu diawasi lebih lanjut.

Berita Terkait