Ketergantungan Rusia pada Tiongkok kini jauh lebih dalam daripada sebelumnya. Dalam banyak isu strategis, Vladimir Putin datang ke Beijing dengan kebutuhan yang lebih besar daripada daya tawar, sementara Xi Jinping berada di posisi yang bisa memilih kapan memberi dan kapan menahan.
Perubahan itu paling jelas terlihat dari perdagangan. Pada 2013, Tiongkok menyumbang 10% dari total perdagangan Rusia, sedangkan kini porsinya sudah melonjak menjadi hampir 40%. Rusia juga bergantung pada Tiongkok untuk sepertiga pendapatan ekspornya, sementara kontribusi Rusia dalam total perdagangan Tiongkok masih kurang dari 4%.
Gas Rusia Mentok di Beijing
Salah satu contoh paling nyata muncul saat kunjungan ke-14 Putin ke Tiongkok pada Mei lalu. Moskow datang dengan harapan besar untuk mengamankan proyek pipa gas alam Power of Siberia 2, tetapi hasilnya jauh dari yang diinginkan Kremlin.
Pejabat Tiongkok disebut hanya bersedia menandatangani kesepakatan jika Rusia menjual gas dengan harga sangat rendah, setara tarif domestik di Rusia. Artinya, Beijing meminta Kremlin ikut menanggung beban proyek tersebut, bukan sekadar menjadi pembeli.
Putin memang pulang dengan 42 perjanjian, tetapi kesepakatan pipa gas yang paling dibutuhkan Moskow tidak ikut masuk daftar. Joerg Wuttke, eksekutif bisnis veteran di Tiongkok, menggambarkan situasi itu dengan kalimat tajam, “Xi menerima Putin seperti seorang kaisar menerima tamu di istananya, lalu menyuruhnya pulang.”
Ruang Gerak Moskow Makin Menyempit
Ketimpangan itu juga merembes ke sektor keuangan. Moskow akhirnya menyetujui penggunaan yuan sebagai mata uang utama untuk bank pembangunan regional di bawah Shanghai Cooperation Organization (SCO), keputusan yang sebelumnya ditolak Rusia selama lebih dari satu dekade demi menjaga pengaruhnya di Asia Tengah.
Para analis menilai langkah-langkah semacam ini menunjukkan bahwa Kremlin semakin sulit mempertahankan posisi setara di hadapan Beijing. Rusia tetap membutuhkan Tiongkok untuk menopang perdagangan, ekspor, dan pembiayaan, sementara Tiongkok tidak memiliki ketergantungan yang sebanding.
Beijing Menekan, Tetapi Tetap Menjaga Etiket
Sejumlah ahli mengingatkan bahwa Tiongkok tidak bisa menekan Rusia terlalu keras. Pengalaman 1960-an menunjukkan bahwa sikap dominan Uni Soviet terhadap Tiongkok sebagai adik kecil justru menghancurkan aliansi mereka pada masa itu.
Karena itu, Xi tampaknya memilih pendekatan yang lebih halus. Ia tetap memperlakukan Putin dengan hormat di depan publik, sambil menekan lebih agresif di balik layar.
Mediaindonesia.com mencatat, strategi ini terlihat efektif karena Putin masih mendapat panggung politik, meski ruang geraknya terus menyempit. Beijing tampak tidak ingin mengulang kesalahan lama, tetapi tetap memanfaatkan kelemahan Rusia semaksimal mungkin.
Retakan di Isu Korea Utara
Hubungan kedua negara juga mulai menegang pada isu lain, terutama terkait Korea Utara. Beijing merasa tidak nyaman dengan pengiriman pasukan Korea Utara untuk membantu Rusia di Ukraina.
Tiongkok khawatir transfer teknologi militer Rusia ke Pyongyang akan mendorong Korea Selatan dan Jepang makin dekat dengan Amerika Serikat. Situasi itu justru bisa merusak strategi regional Beijing sendiri.
Bahkan, Tiongkok sempat meminta Putin agar tidak langsung mengunjungi Pyongyang setelah dari Beijing. Langkah itu dimaksudkan untuk menghindari narasi poros otoriter yang ingin dijauhkan Xi Jinping dari sorotan publik.
Masa Depan yang Semakin Tidak Seimbang
Para analis menilai Tiongkok sedang memainkan strategi jangka panjang dengan menunggu ekonomi Rusia terus melemah. Dalam skenario itu, Moskow pada akhirnya bisa lebih mudah menerima syarat yang sepenuhnya menguntungkan Beijing.
Alexander Gabuev dari Carnegie Russia Eurasia Center menyebut Tiongkok berpeluang mengubah Rusia menjadi semacam Laos raksasa atau Pakistan raksasa. Gambaran itu merujuk pada negara yang sangat bergantung, terkoneksi erat, dan melihat Tiongkok sebagai model modernitas sekaligus sumber utama kelangsungan hidup ekonomi.
Source: mediaindonesia.com






