Pengangkatan rahim Ayu Aulia rupanya tidak bisa dipahami sesederhana dugaan publik yang langsung mengaitkannya dengan riwayat aborsi. Kondisi yang ia hadapi disebut berawal dari tumor yang kembali tumbuh dan kemudian menjadi lebih ganas, hingga dokter memutuskan histerektomi.
Ayu juga menegaskan melalui unggahan Instagram Story bahwa penyebab operasinya bukan semata-mata karena aborsi. Ia menyebut tumornya sempat pernah diangkat, tetapi kemudian muncul lagi dan berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Keputusan medis yang berat
Histerektomi membuat peluang Ayu untuk hamil dan melahirkan lagi ikut hilang. Situasi itu jelas menjadi pukulan besar, sebab persoalannya tidak hanya menyangkut kesehatan fisik, tetapi juga masa depan reproduksinya.
Pada kondisi seperti ini, pengangkatan rahim biasanya dipilih sebagai langkah terakhir. Dokter mempertimbangkannya ketika rahim sudah tidak lagi bisa dipertahankan demi keselamatan pasien.
Benarkah aborsi memicu tumor rahim?
Secara medis, satu kali aborsi tidak langsung menyebabkan tumor rahim, baik yang jinak maupun yang ganas. Keterangan ini merujuk pada penjelasan medis yang dikutip dari laman Georgia Endovascular.
Meski begitu, ada catatan yang sering muncul dalam pembahasan kesehatan reproduksi. Sejumlah studi disebut menunjukkan bahwa aborsi yang disengaja dan dilakukan berulang kali dapat meningkatkan risiko berkembangnya fibroid rahim jinak atau leiomioma.
Risiko yang lebih berat datang dari aborsi ilegal
Komplikasi yang paling berbahaya justru kerap dikaitkan dengan aborsi ilegal. Prosedur yang dilakukan oleh tenaga non-medis dapat memicu infeksi panggul kronis atau peradangan berat yang merusak organ reproduksi.
Kondisi tersebut tidak otomatis berubah menjadi tumor ganas. Namun, infeksi berulang dan kerusakan jaringan dapat memperburuk kesehatan reproduksi secara keseluruhan.
Obat tertentu juga ikut disorot
Dalam pembahasan lain, penggunaan obat tertentu juga ikut disorot karena dikaitkan dengan risiko kesehatan reproduksi. Salah satunya mifepristone, yang disebut memiliki korelasi dengan peningkatan risiko pembentukan miom bila dipakai sering dan tidak sesuai prosedur pada kelompok usia tertentu.
Tetapi informasi itu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa aborsi otomatis memicu tumor ganas. Riwayat pasien, jenis tumor, dan hasil pemeriksaan dokter tetap menjadi penentu utama dalam membaca kondisi medis seseorang.
Mengapa rahim bisa diangkat
Dalam kasus Ayu, tumor yang kembali muncul dan disebut semakin ganas membuat dokter mengambil langkah pengangkatan rahim. Tindakan itu dilakukan demi keselamatan tubuhnya ketika organ sudah dinilai tidak lagi bisa dipertahankan.
Selain tumor ganas atau kanker, ada beberapa kondisi lain yang juga bisa berujung pada histerektomi. Di antaranya miom yang sangat besar dan banyak, pendarahan hebat yang membahayakan nyawa, serta endometriosis berat yang merusak organ lain dan memicu nyeri ekstrem.
Pada kasus tumor ganas, pengangkatan rahim dilakukan agar sel kanker tidak menyebar ke organ tubuh lainnya. Karena itu, keputusan seperti ini biasanya lahir dari pertimbangan serius dan bukan tindakan yang diambil secara ringan.
Source: www.suara.com






