Letterboxd kini menjadi sasaran minat sejumlah nama besar industri hiburan, sementara kekhawatiran soal independensinya ikut meningkat. Platform ulasan film itu disebut sedang membuka peluang untuk dijual, dengan Netflix, Sony Pictures Entertainment, dan Paramount Skydance masuk dalam daftar pihak yang dikabarkan melirik akuisisi.
Jika transaksi benar terjadi, pertanyaan terbesarnya bukan hanya siapa yang akan menjadi pemilik baru. Posisi Letterboxd sebagai ruang pencatatan dan ulasan film yang bebas bisa ikut diuji, terutama bila kendali berpindah ke studio film besar yang juga punya kepentingan terhadap karya-karya mereka sendiri.
Pembicaraan awal sudah berlangsung
Menurut Variety, pemilik Letterboxd telah menjalani pembicaraan awal dengan sejumlah pihak dalam beberapa bulan terakhir. Selain tiga nama besar itu, RedBird Capital Partners, TPG, dan Alexis Ohanian melalui perusahaan modal venturanya, Seven Seven Six, juga disebut menunjukkan minat.
Pada tahap ini, Letterboxd belum memberi kepastian mengenai proses penjualan. Perwakilan perusahaan tidak mengonfirmasi maupun membantah kabar tersebut, tetapi menegaskan bahwa minat dari banyak pihak muncul seiring pertumbuhan platform itu sendiri.
“Seiring pertumbuhan Letterboxd, wajar jika banyak pihak tertarik dengan apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Saat ini belum ada hal spesifik yang bisa kami bagikan. Keputusan apa pun mengenai masa depan Letterboxd akan melibatkan para pendiri,” ujar perwakilan Letterboxd.
Valuasi melonjak tajam
Proses penjajakan penjualan itu ditangani oleh bank investasi LionTree. Berdasarkan laporan Puck, Letterboxd dipasarkan dengan valuasi sekitar US$250 juta, jauh di atas nilai investasi yang sebelumnya melekat pada platform tersebut.
Bandingkan dengan 2023, saat perusahaan investasi asal Kanada, Tiny, mengakuisisi 60 persen saham Letterboxd dengan valuasi sekitar US$50–60 juta. Dua pendiri Letterboxd, Matthew Buchanan dan Karl von Randow, tetap memegang 40 persen saham.
Lonjakan pengguna ikut memperkuat posisi tawar
Didirikan pada 2011 dan berbasis di Auckland, Selandia Baru, Letterboxd berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Hingga Juni 2026, platform ini tercatat memiliki lebih dari 30 juta pengguna di seluruh dunia.
Popularitasnya melonjak sejak pandemi COVID-19, dan dalam setahun terakhir Letterboxd menambah sekitar 10 juta anggota baru. Pertumbuhan itu membuat minat dari pembeli potensial menjadi masuk akal, sekaligus menjelaskan mengapa pembahasan soal masa depannya kini semakin ramai.
Konflik kepentingan menjadi sorotan utama
Kekhawatiran terbesar muncul bila Letterboxd jatuh ke tangan studio film yang juga memproduksi film dan serial mereka sendiri. Dalam skenario itu, publik bisa mempertanyakan apakah ulasan terhadap karya milik pemilik baru akan tetap diperlakukan secara setara.
Isu seperti ini bukan hal baru di dunia agregator dan ulasan film. Sebelumnya, pertanyaan serupa pernah mengiringi Rotten Tomatoes saat masih berada di bawah kepemilikan NBCUniversal, sementara IMDb kini dimiliki Amazon.
Hingga saat ini, Netflix, Sony Pictures Entertainment, dan Paramount Skydance belum memberi komentar atas kabar ketertarikan mereka. Tiny dan TPG juga belum menanggapi, sedangkan Alexis Ohanian merespons rumor itu dengan nada bercanda, “Astaga, aku bahkan enggak bisa bersin tanpa ada yang membicarakannya,” ujarnya.
| Pihak | Peran atau Keterangan | Catatan | Nilai |
|---|---|---|---|
| Letterboxd | Platform ulasan dan pencatatan film | Sedang membuka peluang untuk dijual | Lebih dari 30 juta pengguna |
| Tiny | Investor utama | Mengakuisisi 60 persen saham pada 2023 | Valuasi sekitar US$50–60 juta |
| LionTree | Bank investasi | Menangani penjajakan penjualan | Valuasi pasar sekitar US$250 juta |
Dengan minat dari Netflix, Sony Pictures Entertainment, Paramount Skydance, hingga sejumlah investor lain, arah masa depan Letterboxd kini menjadi perhatian luas. Keputusan akhir tetap akan melibatkan para pendiri, sementara pasar menunggu apakah platform yang tumbuh dari komunitas film ini bisa mempertahankan karakter independennya.
