Ramos-Horta Ajak Lihat Luka Lama Sebagai Jembatan Baru Timor Leste dan Indonesia

Presiden Republik Demokratik Timor Leste José Ramos-Horta menempatkan kemanusiaan, dialog, dan saling percaya sebagai dasar utama hubungan baru Timor Leste dan Indonesia. Di Jakarta, ia menegaskan bahwa rekonsiliasi kedua negara tidak lahir dari warisan konflik, melainkan dari pilihan sadar untuk memaafkan dan terus membuka ruang pertemuan.

Pernyataan itu disampaikan saat Ramos-Horta menjadi pembicara utama dalam seri keempat ERIA School of Government Leadership Lecture Series di Jakarta, Selasa (2/6). Forum bertema “Leadership in Dangerous Times: Human Rights, Nation-Building, and Regional Diplomacy” itu menjadi panggung bagi Ramos-Horta untuk menunjukkan bahwa sejarah kelam tidak harus berakhir sebagai luka yang diwariskan.

Rekonsiliasi yang dipilih, bukan balas dendam

Ramos-Horta menekankan bahwa Timor Leste memilih jalan rekonsiliasi secara sadar. Ia memandang kepercayaan hanya dapat dibangun kembali lewat kesabaran dan dialog yang konsisten, bukan melalui siklus pembalasan.

Ia juga menyoroti pentingnya sikap selama masa perjuangan yang tidak menyasar warga sipil Indonesia. Menurutnya, langkah itu membantu mencegah tumbuhnya kebencian antarmasyarakat dan menjaga agar permusuhan tidak diteruskan ke generasi berikutnya.

Dalam pandangannya, hubungan antara Timor Leste dan Indonesia kini memperlihatkan bahwa luka konflik bisa diubah menjadi kemitraan baru. Proses itu, kata dia, bertumpu pada keberanian untuk memaafkan tanpa mengabaikan sejarah yang pernah terjadi.

Apresiasi untuk tokoh Indonesia

Dalam penjelasannya, Ramos-Horta memberi penghargaan kepada sejumlah pemimpin Indonesia yang dinilai berperan dalam masa transisi Timor Leste. Nama B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri disebut sebagai bagian dari perjalanan hubungan yang berubah dari ketegangan menuju persahabatan.

Penyebutan itu memperlihatkan bahwa rekonsiliasi tidak hanya dibangun lewat pernyataan politik, tetapi juga melalui keputusan-keputusan yang membuka jalan bagi hubungan yang lebih tenang. Ramos-Horta menempatkan para pemimpin itu sebagai bagian dari jembatan yang membantu kedua negara bergerak melampaui masa lalu.

Arti penting bagi kawasan

Pandangan tentang Timor Leste dan Indonesia juga mendapat sambutan dari kalangan ERIA. Dean dan Managing Director ERIA School of Government, Prof. Nobuhiro Aizawa, menyebut persahabatan kedua negara sebagai salah satu penopang stabilitas Asia Tenggara saat ini.

Aizawa juga menyampaikan optimisme atas aksesi Timor-Leste ke ASEAN. Ia menilai kepemimpinan Ramos-Horta menunjukkan bahwa pengalaman konflik dapat diarahkan menuju masa depan yang lebih kolaboratif.

Presiden ERIA, Tetsuya Watanabe, menyampaikan pandangan serupa. Ia menekankan bahwa pelajaran kepemimpinan paling relevan tidak hanya lahir dari buku, tetapi juga dari tokoh yang ikut membentuk sejarah secara langsung.

Kemanusiaan, pendidikan, dan arah ASEAN

Ramos-Horta tidak hanya bicara soal masa lalu, tetapi juga soal arah pembangunan Timor Leste ke depan. Ia menempatkan prinsip kemanusiaan sebagai dasar negara, termasuk penolakan terhadap diskriminasi dan dorongan agar pendidikan serta mobilitas warga tetap menjadi prioritas.

Ia juga menegaskan kesiapan Timor-Leste untuk bergabung sepenuhnya dengan ASEAN. Menurutnya, keberagaman sejarah dan budaya di kawasan bukan penghalang untuk bersatu dalam tujuan bersama.

Forum di Jakarta itu mempertemukan diplomat, pejabat pemerintah, dan akademisi yang membahas tata kelola pemerintahan serta kerja sama regional. Dari sana, pesan Ramos-Horta kembali menegaskan bahwa hubungan Timor Leste dan Indonesia kini bergerak dengan pijakan dialog, saling percaya, dan pilihan untuk menatap masa depan bersama.

Source: mediaindonesia.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer