Rencana perubahan besar PT Techno9 Indonesia Tbk akan ditentukan lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB yang digelar secara daring pada 7 Mei 2026. Dalam agenda itu, pemegang saham diminta menyetujui penambahan modal, perubahan anggaran dasar, perubahan jajaran pengurus, serta pemberian kuasa kepada direksi untuk menjalankan aksi korporasi yang sudah disiapkan.
Fokus utama pasar tertuju pada skema rights issue dan reverse takeover atau RTO yang akan menjadi pintu masuk transformasi bisnis perseroan. Jika disetujui, langkah ini akan mengubah Techno9 dari emiten yang selama ini dikenal sebagai penyedia layanan teknologi informasi menjadi perusahaan dengan eksposur lebih besar ke tambang, energi, dan hilirisasi.
Arah bisnis bergeser ke tambang dan energi
Direktur PT Techno9 Indonesia Tbk, Irwan Dharma Kusuma, menyebut perubahan ini sebagai strategi jangka panjang. Perseroan ingin memperluas ekspansi ke sektor pertambangan, energi, dan hilirisasi bernilai tambah, namun tetap mempertahankan layanan teknologi informasi bernilai tinggi.
Irwan menegaskan Techno9 tidak akan meninggalkan bisnis teknologi yang selama ini menjadi identitas utamanya. Di saat yang sama, manajemen melihat peluang besar di lini usaha baru yang akan masuk ke dalam struktur perusahaan.
Techno9 sendiri tercatat di Bursa sejak IPO pada 2022 dengan fokus utama sebagai penyedia layanan teknologi informasi. Karena itu, jika rencana ini berjalan, profil usaha emiten berpotensi bergeser cukup jauh dari identitas lamanya.
Rights issue jadi jalur integrasi aset
Agenda RUPSLB juga memuat persetujuan Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau PMHMETD. Aksi korporasi ini menjadi jalan untuk penerbitan saham baru yang dapat menambah jumlah saham beredar secara signifikan.
Bagi investor publik, rights issue menjadi perhatian penting karena dapat memengaruhi kepemilikan. Pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya berpotensi terdilusi, terutama jika jumlah saham baru yang dilepas besar dibandingkan saham lama.
Perseroan menyebut dana dan mekanisme rights issue akan dipakai untuk mengintegrasikan aset pertambangan di Mongolia ke dalam struktur perusahaan. Manajemen juga menegaskan akuisisi aset tambang tersebut tidak membutuhkan pengeluaran kas.
“Tidak terdapat biaya tunai untuk mengakuisisi aset tambang Mongolia; aset tersebut akan dimasukkan ke dalam perseroan melalui proses PMHMETD,” kata Irwan.
RTO mengubah struktur aset dan model usaha
Skema yang disiapkan Techno9 tidak hanya berkaitan dengan pendanaan, tetapi juga injeksi aset non-tunai melalui penambahan modal. Mekanisme ini membuat struktur aset dan model bisnis perusahaan berubah secara fundamental.
Dengan RTO dan rights issue, Techno9 akan memiliki paparan langsung ke pertambangan dan energi, bukan semata-mata layanan teknologi informasi. Komposisi pemegang saham dan aset perseroan juga akan ikut berubah bila rencana itu terealisasi.
Perubahan tersebut membuka peluang pertumbuhan baru dari aset dan pendapatan tambahan. Namun investor juga perlu mencermati risiko integrasi bisnis, volatilitas sektor komoditas, dan potensi tekanan pada laba per saham.
Teknologi tetap masuk dalam rencana besar
Di tengah pergeseran ke tambang dan energi, Techno9 juga menargetkan pengembangan teknologi proprietary seperti waste to energy dan biomassa. Arah ini menunjukkan transformasi perusahaan tidak bertumpu pada komoditas saja.
Rencana itu menempatkan pengolahan dan pemanfaatan energi bernilai tambah sebagai bagian dari strategi baru perseroan. Dengan begitu, Techno9 berupaya membangun kombinasi antara bisnis teknologi dan sektor sumber daya alam dalam satu struktur usaha.
RUPSLB 7 Mei 2026 menjadi momen penting untuk menentukan jalur tersebut. Selain PMHMETD, pemegang saham juga akan membahas perubahan Anggaran Dasar terkait peningkatan modal ditempatkan dan disetor penuh, perubahan Direksi dan Dewan Komisaris, serta pemberian kuasa kepada Direksi untuk menjalankan aksi korporasi yang sudah dirancang.
Source: mediaindonesia.com






