Tears of Metal menonjol lewat kombinasi yang jarang muncul dalam satu game: pertempuran besar, struktur roguelike, dan opsi co-op multiplayer. Game garapan Paper Cult ini disiapkan hadir di PC melalui Steam, dengan jadwal yang saat ini tercantum pada 2026.
Yang membuatnya langsung terasa berbeda adalah cara game ini menempatkan pemain di tengah perang dalam skala luas, bukan sekadar duel aksi biasa. Di saat banyak game menonjolkan satu karakter utama, Tears of Metal justru meminta pemain memimpin batalion pasukan Skotlandia sambil terus menyesuaikan diri dengan kondisi yang berubah di setiap run.
Pertarungan besar yang terus berubah
Skala pertempuran menjadi daya tarik paling jelas dari Tears of Metal. Pemain akan berhadapan dengan banyak musuh sekaligus di medan perang yang luas, baik ketika bermain sendiri maupun bersama teman dalam mode kooperatif.
Intensitas itu tidak hanya datang dari jumlah lawan. Paper Cult juga merancang tiap percobaan agar terasa berbeda karena komposisi musuh dan peluang strategi bisa bergeser dari satu run ke run berikutnya.
Pendekatan tersebut membuat permainan tidak bisa diselesaikan dengan pola serangan yang sama terus-menerus. Setiap kemajuan menuntut pembacaan situasi yang cepat, terutama ketika lawan muncul dalam jumlah besar dan tekanan pertempuran meningkat.
Skotlandia abad pertengahan dengan ancaman supernatural
Latar Tears of Metal mengambil versi fiksi Skotlandia abad pertengahan. Pemain berperan sebagai pejuang yang bertugas merebut kembali tanah air setelah invasi yang dipicu oleh Dragon Stone meteor.
Meteor itu bukan sekadar latar tambahan, karena unsur tersebut membawa pengaruh supernatural dalam dunia permainan. Dampaknya terasa pada arah konflik, kondisi dunia, dan juga pasukan musuh yang harus dihadapi pemain.
Cerita tidak disampaikan lewat penjelasan panjang sejak awal. Informasi tentang meteor dan invasi akan terbuka sedikit demi sedikit seiring pemain bergerak lebih jauh di pulau tempat pertempuran berlangsung.
Roguelike yang memberi ruang eksperimen
Di balik aksi yang padat, Tears of Metal juga menempatkan elemen roguelike sebagai inti desain. Setiap run memberi kesempatan untuk menyusun pendekatan baru, sehingga permainan tidak berhenti pada aksi cepat semata.
Informasi yang dibagikan menyebutkan adanya lebih dari seratus peningkatan. Selain itu, pemain juga bisa menemukan artefak dan kemampuan yang memperluas ruang eksperimen dalam membentuk gaya bermain pada tiap percobaan.
Sistem ini membuat progres terasa dinamis karena keputusan yang diambil saat run berlangsung akan memengaruhi arah perkembangan. Dengan begitu, game ini mendorong pemain untuk terus mencoba susunan kemampuan yang berbeda.
Batalion yang ikut tumbuh bersama pemain
Tears of Metal tidak menempatkan seluruh beban pada satu karakter utama. Sistem permainan justru menjadikan batalion pasukan Skotlandia sebagai bagian penting dari pengalaman bermain.
Selama run, pemain bisa merekrut sekutu dan memperkuat pasukan yang dibawa ke medan perang. Unit yang terkumpul juga akan mendapatkan pengalaman dan bisa menerima peningkatan permanen, sehingga ada rasa kemajuan jangka panjang meski satu percobaan tidak selalu berhasil.
Lapisan progresi ini memberi bobot tambahan pada setiap pergerakan di medan perang. Pemain bukan hanya mengejar kemenangan sesaat, tetapi juga membangun kekuatan tempur yang berkembang dari waktu ke waktu.
Aksi cepat, strategi, dan kerja sama
Gabungan antara pertempuran langsung dan pengelolaan pasukan membuat Tears of Metal punya arah yang berbeda dari game aksi biasa. Pemain tetap dituntut agresif, tetapi keputusan strategi tetap punya pengaruh besar terhadap hasil akhir pertarungan.
Tantangan juga dirancang tetap berat ketika bertemu lawan yang lebih kuat atau bos. Dalam kondisi seperti itu, adaptasi cepat menjadi penting, apalagi mode kooperatif menempatkan koordinasi sebagai bagian yang sangat menentukan.
Rasa mainnya mendekati sensasi pertarungan ala musou, tetapi dengan lapisan roguelike yang menekankan pengulangan dan pembentukan kekuatan secara bertahap. Kombinasi itu memberi identitas yang kuat di tengah banyaknya game aksi indie yang datang dengan pendekatan serupa.
Dengan dukungan co-op multiplayer, sistem run yang variatif, serta fokus pada pemimpin batalion dalam perang berskala besar, Tears of Metal diposisikan sebagai game yang mengandalkan intensitas aksi sekaligus kedalaman strategi saat meluncur di PC melalui Steam.







