Motorola Razr Fold hadir dengan keunggulan yang sangat jelas di sisi kecepatan pengisian daya, tetapi ada satu batas penting yang langsung menonjol: ponsel lipat ini tidak mendukung Qi2. Artinya, pengguna tidak akan mendapatkan kompatibilitas dengan ekosistem pengisian nirkabel magnetik terbaru, baik dari bawaan perangkat maupun lewat casing tambahan.
Ketiadaan dukungan itu membuat Razr Fold berada di posisi yang cukup spesifik di pasar. Perangkat ini tetap bisa diisi tanpa kabel, tetapi pengalaman yang ditawarkan tidak seluas ponsel lain yang sudah mengikuti standar Qi2, terutama bagi pengguna yang sering memakai aksesori pihak ketiga.
Fokus Motorola ada di kecepatan
Motorola justru menempatkan pengisian nirkabel 50W sebagai salah satu daya tarik utama Razr Fold. Kecepatan tersebut hanya bisa dicapai dengan Motorola 50W Wireless TurboPower Charger yang dijual terpisah.
Di luar skenario itu, ponsel ini masih mendukung pengisian nirkabel umum melalui standar Qi EPP hingga 15W. Jadi, opsi pengisian nirkabel tetap ada, hanya saja tidak mengarah ke standar magnetik terbaru yang kini makin banyak dipakai.
Kompatibilitas jadi titik lemah
Bagi banyak pengguna, absennya Qi2 bukan sekadar soal teknis kecil. Standar ini semakin umum di aksesori pihak ketiga, sehingga kehadirannya sering dianggap sebagai nilai tambah besar untuk kenyamanan sehari-hari.
Tanpa Qi2, pengguna Razr Fold kehilangan satu lapisan kemudahan otomatis saat ingin mengandalkan charger atau perangkat tambahan di luar rumah. Situasi itu terutama terasa bagi mereka yang mengutamakan fleksibilitas dan ingin dukungan yang lebih luas dari ekosistem aksesori modern.
Android Central menilai keputusan Motorola untuk tidak menyertakan Qi2 terasa janggal di tengah tren industri. Sorotan itu makin kuat karena beberapa nama besar di pasar ponsel flagship sudah lebih dulu mengadopsinya.
Motorola tetap mempertahankan alasan fitur lain
Saat ditanya soal Qi2, Motorola menekankan bahwa setiap perangkat dirancang untuk memenuhi kebutuhan konsumen melalui kombinasi daya tahan baterai, pengisian cepat, dan kenyamanan pengisian nirkabel. Perusahaan juga menyebut lini razr fold, razr ultra, razr+, dan razr mampu menawarkan daya tahan baterai lebih dari 30 jam.
Selain itu, Motorola mengklaim pengisian super cepatnya dapat memberi daya untuk kebutuhan seharian hanya dalam 8 sampai 15 menit. Dengan penekanan seperti itu, perusahaan tampaknya memilih untuk menonjolkan kecepatan ketimbang mengikuti standar nirkabel terbaru secara penuh.
Dampaknya terasa paling besar pada pengguna yang sering mobile
Bagi pemilik Razr Fold, dampak paling nyata ada pada pilihan aksesori. Ponsel ini tetap kompatibel dengan pengisian nirkabel biasa, tetapi tidak mendapatkan manfaat penuh dari ekosistem Qi2 yang sedang berkembang.
Kondisi tersebut lebih mudah dirasakan oleh pengguna yang sering mengisi daya di luar rumah, karena kompatibilitas luas biasanya menjadi nilai tambah yang besar. Razr Fold masih menawarkan pengisian nirkabel dan performa tinggi dalam kondisi tertentu, tetapi pilihan aksesori yang paling modern tetap terbatas pada standar yang didukungnya.
Sudah masuk tahap pemesanan awal
Razr Fold sudah memasuki tahap pre-order. Pemesanan awal dibuka pada 14 Mei, lalu penjualan dimulai pada 21 Mei.
Dengan jadwal tersebut, isu Qi2 menjadi penting sejak awal bagi calon pembeli. Perbedaan antara Qi2, Qi EPP 15W, dan pengisian nirkabel 50W lewat charger khusus bisa langsung memengaruhi pilihan aksesori sejak hari pertama pemakaian.
Meski tanpa Qi2, Razr Fold belum otomatis kehilangan daya tariknya. Android Central menilai kekurangan itu belum cukup untuk langsung membuat calon pembeli mencoretnya dari daftar pertimbangan, apalagi perangkat ini dipandang berpeluang menjadi salah satu foldable terbaik untuk dibeli di 2026.
Source: www.androidcentral.com