Realitas Kuantum Bisa Saling Bersinggungan, Versi Lain Diri Kita Tak Benar-Benar Hilang

Seorang fisikawan dari University of Oxford mengajukan cara pandang yang membuat fisika kuantum terasa semakin luas dari bayangan umum. Ia menilai bahwa kemungkinan tentang versi lain dari diri manusia di alam semesta berbeda tidak bisa langsung diabaikan ketika membahas realitas.

Pandangan itu berangkat dari cara fisika kuantum menggambarkan dunia partikel. Pada level elektron atau foton, sebuah sistem dapat berada dalam beberapa keadaan sekaligus sebelum pengukuran dilakukan, lalu tampak mengambil satu hasil setelah diamati.

Pengamat bukan pusat yang mengendalikan segalanya

Selama ini, efek pengamat sering dipahami seolah manusia membentuk realitas hanya dengan melihatnya. Fisikawan tersebut menganggap tafsir seperti itu terlalu sempit karena hubungan antara pengamatan dan hasil justru jauh lebih rumit.

Menurutnya, pengamat bukan pihak yang berdiri di luar sistem dan menguasai hasil akhir. Sebaliknya, pengamat menjadi bagian dari rangkaian interaksi yang juga ikut membentuk bagaimana realitas muncul.

Cara pandang itu menggeser fokus dari manusia sebagai pengendali menuju realitas sebagai sesuatu yang aktif membentuk pengalaman manusia. Dari situ, muncul gagasan bahwa kehidupan yang dijalani sekarang mungkin hanyalah satu dari sejumlah cabang kemungkinan yang lebih luas.

Cerita panggung musik yang berubah jadi pelajaran fisika

Untuk menjelaskan gagasannya, ia mengingat masa remajanya saat tampil bersama band rock. Dalam sebuah acara besar, ia menaikkan volume amplifier gitar terlalu tinggi agar tampil lebih mengesankan, tetapi sekering amplifier justru putus dan penampilannya tidak berjalan maksimal.

Ia sempat bertanya mengapa dirinya seolah berakhir di “alam semesta yang sial”. Namun setelah mempelajari fisika kuantum bertahun-tahun kemudian, ia menilai pertanyaan itu lahir dari cara pandang yang terlalu sederhana.

Menurutnya, selalu ada kemungkinan lain yang juga sama-sama masuk akal dalam kerangka kuantum. Dalam satu kemungkinan, amplifier tidak rusak dan penampilan band mendapat tepuk tangan meriah, sementara dalam kemungkinan lain hasilnya berantakan seperti yang benar-benar terjadi.

Bob, foton, dan cabang kenyataan

Agar lebih mudah dipahami, ia memakai contoh tokoh bernama Bob yang mengenakan kacamata hitam. Saat sebuah foton mengenai lensa kacamata itu, foton dapat berada dalam superposisi, yaitu sebagian kemungkinan dipantulkan dan sebagian kemungkinan masuk ke mata Bob.

Jika foton masuk ke mata Bob, otaknya menerima sinyal cahaya. Jika foton dipantulkan, Bob tidak menyadari apa pun, dan kedua kemungkinan itu diperlakukan seolah terjadi di cabang realitas yang berbeda.

Dalam satu cabang, Bob melihat cahaya. Dalam cabang lain, Bob tidak melihat apa-apa, dan gambaran ini mengingatkan pada eksperimen Schrödinger’s Cat yang sering dibahas dalam fisika kuantum.

Kemungkinan yang tetap terhubung

Bagi fisikawan itu, inti persoalannya bukan manusia menciptakan realitas. Ia justru melihat bahwa realitaslah yang membentuk versi diri manusia melalui hasil-hasil yang muncul dalam proses pengamatan.

Ia juga membuka kemungkinan bahwa cabang-cabang realitas yang berbeda tidak benar-benar terputus total. Menurutnya, cabang itu dapat saling memengaruhi melalui interferensi kuantum.

Ia bahkan memakai skenario imajiner lain melalui tokoh Alice yang mencoba membalik proses keterikatan kuantum antara Bob dan foton. Jika pembalikan itu berhasil sempurna, kedua kemungkinan realitas harus tetap ada dan tetap terhubung satu sama lain.

Dari sana, muncul dugaan bahwa versi-versi berbeda dari satu peristiwa mungkin tidak hilang begitu saja. Semua kemungkinan itu tetap eksis dalam bentuk tertentu, meski manusia hanya mengalami satu hasil dalam kehidupan sehari-hari.

Masih sulit dibuktikan, tetapi pertanyaannya besar

Gagasan seperti ini sulit diuji lewat eksperimen karena alam semesta sangat kompleks. Meski begitu, ide tersebut membuka ruang tanya yang besar, baik secara ilmiah maupun filosofis.

Pertanyaannya menjadi apakah kehidupan manusia saat ini bisa ikut dipengaruhi oleh realitas lain yang tidak terlihat. Fisikawan itu mengakui gagasan tersebut terasa sangat jauh dari pengalaman harian, tetapi ia menilai fisika kuantum memang masih menyimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya dipahami.

Source: mediaindonesia.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer