Reggae dan Suling Sunda Menjaga Bandung dalam “Paris Van Java” Tony Q Rastafara

“Paris Van Java” menunjukkan cara Tony Q Rastafara menautkan irama reggae dengan identitas Tanah Sunda. Suling Sunda yang hadir dalam lagu itu membuat Bandung tidak sekadar menjadi latar, melainkan ruang budaya yang terasa dekat.

Lagu yang dirilis pada 2005 tersebut tetap bertahan dalam ingatan pendengarnya ketika wajah Bandung terus berubah. Nuansa hangatnya masih kerap terdengar di warung kopi, kafe, dan sesi gitaran bersama teman.

Reggae yang Berpijak pada Pasundan

Reggae menjadi fondasi musikal “Paris Van Java”, tetapi Tony Q tidak membiarkan warna lokal tenggelam di balik pola ritme khas Jamaika. Penggunaan suling Sunda mempertegas suasana Bandung dan wilayah Pasundan dalam lagu tersebut.

Perpaduan itu memberi pembeda pada karya Tony Q Rastafara. Musiknya mengajak pendengar mengikuti melodi yang mudah dinyanyikan, sambil membayangkan kembali lingkungan pergaulan serta perjalanan masa muda.

Keakraban tersebut menjadi salah satu alasan lagu ini terus hidup setelah bertahun-tahun. Pendengar dapat menemukan gambaran tentang pertemanan, perjumpaan, dan suasana kota yang pernah membentuk kenangan mereka.

Bandung sebagai Ruang Kenangan

Dalam “Paris Van Java”, Bandung digambarkan lebih dari nama kota yang dipuji melalui lagu. Kota itu hadir sebagai tempat yang menyimpan kisah personal dan ikatan persahabatan dalam perjalanan hidup seorang musisi.

Lirik pembukanya memakai bahasa Sunda untuk menyampaikan kerinduan pada cerita lama. Pilihan bahasa tersebut memperdekat gambaran masa muda, banyaknya sahabat, dan perjumpaan yang pernah terjadi di Bandung.

Suasana pagi, siang, hingga malam turut menjadi bagian dari gambaran lagu. Waktu-waktu itu dipotret sebagai kesempatan untuk bertukar kabar, saling mencari, dan menikmati kebahagiaan bersama.

Refrein lagu menegaskan bahwa perubahan tidak menghilangkan perjalanan indah di Tanah Sunda. Gagasan ini menjadi inti nostalgia “Paris Van Java”, yakni ingatan tetap dapat tinggal ketika kota berkembang.

Jejak Asia-Afrika dan Pesan Damai

Nostalgia personal dalam lagu ini juga terhubung dengan sejarah Bandung melalui penyebutan semangat Asia-Afrika. Rujukan tersebut mengarah pada Konferensi Asia-Afrika 1955 yang berlangsung di kota itu.

Medcom menilai penyebutan tersebut mengaitkan lagu dengan nilai perdamaian, solidaritas, dan toleransi. Nilai itu juga selaras dengan semangat yang lekat pada musik reggae.

Karena itu, Bandung dalam “Paris Van Java” bukan hanya kota kenangan masa muda. Kota tersebut juga diposisikan sebagai ruang dengan jejak sejarah yang memberi arti pada pesan kebersamaan.

PeriodeAlbumTahun
Bersama RastafaraRambut Gimbal1996
Bersama RastafaraGue Falling in Love1997
SoloDamai Dengan Cinta2000
SoloKronologi2003
SoloSalam Damai2005

Posisi dalam Perjalanan Tony Q

“Paris Van Java” tercantum dalam Salam Damai, album studio kelima Tony Q yang dirilis pada 2005. Album tersebut hadir setelah perjalanan musiknya bersama Rastafara dan kemudian sebagai solois.

Sebelum menempuh jalur solo, Tony Q dikenal sebagai motor utama Rastafara melalui Rambut Gimbal dan Gue Falling in Love. Karier solonya berlanjut lewat Damai Dengan Cinta dan Kronologi sebelum Salam Damai.

Posisi lagu ini memperlihatkan upaya Tony Q mengolah reggae dari pengalaman yang dekat dengan lingkungannya. Modernisasi Bandung pun tidak menghapus gambaran tentang budaya, sejarah, dan persahabatan yang terus dipelihara melalui lagu.

Source: www.medcom.id
Berita Terkait