Rekor Saham Dunia Terjadi Saat Minyak Terseret Turun, Harapan Damai Iran Dan Euforia AI Menguat

Author: Redaksi Android62

Reli pasar global bergerak ke rekor baru saat harga minyak mentah justru tertekan tajam. Kombinasi itu membuat investor semakin berani masuk ke aset berisiko, dengan keyakinan bahwa ketegangan di Timur Tengah mulai mereda dan tekanan inflasi dari energi ikut melemah.

Di tengah pergerakan itu, pasar juga kembali memusatkan perhatian pada dua tema besar yang saling menguatkan: peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, serta antusiasme terhadap kecerdasan buatan atau AI. Kedua faktor ini mendorong minat beli di saham, terutama di sektor teknologi, sekaligus menekan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak.

Kontrak berjangka S&P 500 naik 1 persen dan Nasdaq 100 menguat 1,4 persen. Sementara itu, indeks MSCI All Country naik 0,5 persen ke level penutupan tertinggi sepanjang sejarah, menandai betapa kuatnya dorongan selera risiko di pasar global.

Harga minyak mentah WTI menjadi titik balik utama dalam reli tersebut. Harga komoditas itu turun lebih dari 6 persen dan bergerak di kisaran US$90 per barel, setelah pasar menangkap sinyal bahwa arus minyak melalui jalur penting di Timur Tengah berpeluang pulih.

Harapan pasar pada diplomasi Iran

Pusat perhatian investor masih tertuju pada pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa negosiasi berlangsung dengan baik, sementara pasar menilai kemajuan itu dapat membuka jalan bagi kesepakatan yang lebih luas.

Jika perjanjian tercapai, Selat Hormuz berpotensi kembali terbuka dengan lebih lancar dan pasokan minyak mentah dapat pulih. Situasi itu akan menjadi kabar positif bagi pasar yang selama ini cemas terhadap gangguan distribusi energi dan lonjakan harga yang menyertainya.

Delegasi Iran juga dilaporkan pergi ke Doha untuk berkonsultasi dengan pejabat senior Qatar. Pembahasan itu mencakup pencairan dana Iran yang dibekukan, meski Trump menegaskan dirinya tidak ingin terburu-buru mencapai perjanjian.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa kesepakatan itu masih dalam proses. Pemerintah AS, menurut dia, akan memberi setiap peluang bagi diplomasi untuk berhasil.

Saham Eropa ikut ikut terdorong

Gelombang optimisme itu tidak hanya terasa di Amerika Serikat. Bursa Eropa juga bergerak naik ke area rekor, meski perdagangan berlangsung relatif sepi karena sejumlah pasar utama sedang tutup libur nasional.

Inggris, Swiss, Norwegia, dan Denmark tidak beroperasi, tetapi minat beli tetap kuat. Indeks Stoxx 600 pun menguat selama enam sesi berturut-turut dan ditutup di level tertinggi sejak perang Iran.

Di Italia, indeks saham acuan bahkan menembus rekor penutupan tertinggi yang terakhir tercatat pada tahun 2000. Penguatan di sana ditopang reli saham energi dan chip, dua kelompok yang ikut menikmati perubahan sentimen pasar.

Dolar melemah, AI kembali jadi magnet

Pelemahan dolar AS juga mempertegas nada positif di pasar. Mata uang itu turun terhadap seluruh mata uang utama negara-negara G-10, dan kondisi tersebut menambah dukungan bagi aset berisiko secara umum.

Di saat yang sama, tema kecerdasan buatan kembali menarik dana ke saham teknologi. Antusiasme terhadap AI membuat investor lebih nyaman mempertahankan posisi di saham pertumbuhan, bahkan ketika pasar masih mengikuti perkembangan harga minyak secara ketat.

Strategist SEB, Dana Malas, menilai dorongan FOMO ikut memperkuat minat terhadap aset berisiko. Menurut dia, investor tidak ingin tertinggal jika perang Iran berakhir sementara tema AI terus menopang pasar saham.

Roberto Scholtes Ruiz dari Singular Bank mengatakan skenario yang paling mungkin tampaknya sudah banyak diperhitungkan pasar setelah lonjakan hari ini. Ia juga memperkirakan akan muncul dinamika “sell the news” begitu kesepakatan benar-benar tercapai.

Fokus pasar belum lepas dari inflasi

Meski saham global sedang menikmati reli, perhatian investor belum bergeser jauh dari inflasi dan arah suku bunga. Pasar kini sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve sebelum akhir tahun.

Dalam waktu dekat, data Personal Consumption Expenditures atau PCE AS serta data inflasi Eropa akan menjadi petunjuk penting bagi kebijakan moneter berikutnya. Karena itu, pergerakan pasar masih akan ditentukan bukan hanya oleh Iran dan minyak, tetapi juga oleh sinyal baru dari bank sentral.

Warsh resmi dilantik pada Jumat lalu dengan janji perubahan terbesar dalam beberapa dekade di bank sentral AS. Trump mengatakan ingin Warsh memimpin The Fed secara independen, sementara BlackRock Inc menilai bank sentral justru mungkin punya alasan cukup untuk memangkas suku bunga di bawah kepemimpinan baru itu.

Di sisi lain, China meluncurkan kampanye besar-besaran terhadap perdagangan lintas batas ilegal untuk menahan arus keluar modal. Beijing juga mengancam hukuman berat bagi broker populer dan memerintahkan akun yang tidak patuh untuk dilikuidasi dalam waktu dua tahun.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru