Rentetan gempa besar yang terjadi di kawasan Pasifik dalam sebulan terakhir belum cukup menjadi bukti bahwa Cincin Api Pasifik sedang memasuki fase aktivitas yang lebih tinggi. Menurut ahli kebencanaan, pola itu masih bisa dibaca sebagai dinamika tektonik normal yang kebetulan muncul berdekatan dalam waktu.
Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menilai persepsi soal lonjakan aktivitas sering muncul karena beberapa gempa signifikan terjadi hampir bersamaan. Ia menyebut kondisi itu sebagai efek klasterisasi waktu, bukan tanda bumi menjadi lebih tidak stabil.
Gempa-gempa yang memicu perhatian publik
Salah satu peristiwa yang paling disorot adalah gempa magnitudo 7,8 di Filipina pada 8 Juni yang sempat memunculkan peringatan tsunami di wilayah Minahasa-Manado, Indonesia. Setelah itu, sejumlah gempa lain juga tercatat di Indonesia, Filipina, Jepang, dan Papua Nugini.
Dalam rentang satu bulan terakhir, deretan gempa yang tercatat di kawasan Cincin Api Pasifik mencakup beberapa kejadian dengan magnitudo menengah hingga besar. Berikut rangkumannya.
| Tanggal | Lokasi | Magnitudo |
|---|---|---|
| 8 Juni 2026 | Pantai selatan Mindanao, Filipina | M7,8 |
| 16 Juni 2026 | Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Indonesia | M6,7 |
| 26 Juni 2026 | Pantai selatan Mindanao, Filipina | M6,5 |
| 27 Juni 2026 | Pacitan, Jawa Timur, Indonesia | M5,3 |
| 6 Juli 2026 | Mindanao, Filipina | M5,81 |
| 9 Juli 2026 | Timur laut Kuji, Jepang | M6,3 |
| 12 Juli 2026 | Laut Buol, Sulawesi Tengah, Indonesia | M5,4 |
| 13 Juli 2026 | Lorengau, Papua Nugini | M6,4 |
| 14 Juli 2026 | Barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Indonesia | M6,2 |
Meski deretannya tampak rapat, Daryono menegaskan bahwa jumlah gempa semacam itu masih berada dalam batas yang wajar. Ia merujuk pada data USGS yang menunjukkan ada sekitar 500.000 gempa bumi terdeteksi di dunia setiap tahun, termasuk gempa kecil yang tidak dirasakan manusia.
Jumlah gempa global masih sesuai pola alamiah
Karena Cincin Api Pasifik menyumbang sekitar 90 persen dari total gempa dunia, wilayah ini diperkirakan mengalami sekitar 450.000 gempa per tahun atau rata-rata 1.200 gempa per hari. Dalam skala global, gempa magnitudo 7,0 ke atas rata-rata terjadi sekitar 15 kali per tahun, sedangkan magnitudo 6,0 ke atas berkisar 130 hingga 140 kali per tahun.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa fluktuasi gempa bulanan maupun tahunan merupakan bagian dari siklus alamiah bumi. Dengan kata lain, rentetan kejadian dalam periode singkat tidak otomatis berarti ada perubahan besar pada sistem tektonik dunia.
Dampaknya bagi Indonesia dan prioritas yang seharusnya dijaga
Bagi Indonesia, rentetan gempa di Pasifik tidak dinilai membawa dampak signifikan di luar risiko kebencanaan rutin yang memang melekat pada kondisi geografis wilayah ini. Indonesia berada di titik pertemuan tiga lempeng tektonik aktif, yakni Lempeng Pasifik, Indo-Australia, dan Eurasia.
Menurut Daryono, sistem lempeng bekerja secara mandiri dan jaraknya sangat jauh, sehingga gempa di Venezuela, Jepang, atau California tidak akan memicu gempa di Indonesia. Karena itu, fokus utama seharusnya tetap pada potensi gempa lokal dan regional yang memang menjadi ancaman sehari-hari.
Ia menekankan pentingnya mitigasi struktural dan kultural agar masyarakat tidak hanya waspada, tetapi juga siap saat guncangan terjadi. Dari sisi struktural, standar bangunan tahan gempa perlu diterapkan secara ketat pada infrastruktur vital, fasilitas publik, dan permukiman.
Dari sisi kultural, edukasi keselamatan dan simulasi evakuasi mandiri perlu dilakukan secara berkala. Sistem peringatan dini tsunami juga harus terus dipelihara agar selalu siaga ketika ancaman muncul.
Dengan kondisi tersebut, rentetan gempa di Pasifik lebih tepat dipahami sebagai bagian dari dinamika tektonik yang terus berlangsung. Bagi Indonesia, yang jauh lebih penting adalah menjaga kesiapsiagaan terhadap ancaman gempa yang memang berasal dari lingkungan seismik sendiri.
Source: www.cnnindonesia.com






