Lebih dari 70 persen karyawan di Indonesia belum siap mengadopsi AI di tempat kerja. Temuan DataOn ini menunjukkan jarak yang masih lebar antara cepatnya perkembangan teknologi dan kesiapan sumber daya manusia di perusahaan.
Di sisi lain, kurang dari 30 persen karyawan sudah dinilai siap menerapkan AI dalam aktivitas kerja. Kondisi ini membuat banyak perusahaan berisiko melangkah lebih lambat saat masuk lebih jauh ke era digital.
Reskilling jadi kebutuhan yang makin mendesak
CEO DataOn Indonesia Gordon Enns menilai situasi tersebut bukan sekadar tantangan teknologi, tetapi juga soal kesiapan organisasi. Ia menekankan bahwa adopsi AI tidak akan berjalan efektif jika perusahaan hanya fokus membeli teknologi tanpa menyiapkan manusia di dalamnya.
Menurut Gordon, reskilling perlu diprioritaskan agar pemanfaatan AI tidak berhenti pada level wacana. Ia juga menyebut sekitar 23 juta orang kemungkinan membutuhkan reskilling dalam beberapa tahun ke depan akibat dampak teknologi AI.
Angka itu menjadi sinyal penting bagi para pemimpin perusahaan di Indonesia. Tanpa penguatan kemampuan tenaga kerja, peluang yang dibawa AI justru bisa berubah menjadi hambatan dalam penerapannya.
SDM masih jadi fondasi utama ekonomi digital
Gordon melihat akses terhadap AI sudah cukup tinggi, tetapi kemampuan untuk memakainya belum sebanding. Karena itu, ia menilai perusahaan masih perlu memperkuat kesiapan internal sebelum memaksimalkan teknologi tersebut.
Dalam pandangannya, sumber daya manusia tetap menjadi bagian penting dari infrastruktur ekonomi digital. Karyawan tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai pelaksana tugas administratif, karena perannya ikut menentukan daya saing perusahaan.
Ia menyebut ekonomi digital sebagai masa depan, dan SDM juga sama pentingnya dari sisi infrastrukturnya. Pandangan ini menegaskan bahwa kesiapan manusia tidak kalah penting dibanding kesiapan sistem teknologi.
Risiko tertinggal makin besar bila perusahaan lambat bergerak
Gordon juga mengingatkan bahwa kemampuan manusia akan menjadi keunggulan kompetitif utama ketika Indonesia benar-benar bergerak menuju ekonomi digital. Karena itu, perusahaan perlu menempatkan karyawan sebagai mitra bisnis, bukan sekadar bagian administratif.
Ia menilai organisasi yang lambat beradaptasi berpotensi tertinggal dalam persaingan. Risiko itu semakin besar jika perubahan peran SDM di tengah percepatan teknologi tidak segera disadari.
Temuan DataOn memperkuat sinyal bahwa adopsi AI di kalangan pekerja masih belum merata. Di tengah dorongan transformasi digital, kesiapan karyawan menjadi titik penting yang menentukan apakah AI benar-benar bisa memberi dampak di tempat kerja.
Dorongan reskilling kini tidak lagi sekadar agenda pengembangan internal. Bagi perusahaan yang ingin bertahan di pasar yang berubah cepat, peningkatan kemampuan tenaga kerja menjadi bagian dari strategi yang tidak bisa ditunda.
