Respons tubuh terhadap obat antiobesitas ternyata tidak selalu seragam. Pada sebagian pasien, penurunan berat badan bisa jauh lebih besar, sementara pada kelompok lain hasilnya lebih terbatas meski obat dan dosis yang dipakai sama.
Sejumlah temuan baru memberi petunjuk bahwa perbedaan itu dapat terkait faktor genetik. Variasi pada dua gen yang terlibat dalam pengaturan hormon usus diduga ikut memengaruhi cara tubuh merespons obat penurun berat badan golongan GLP-1.
Varian gen yang paling menonjol
Dalam analisis terhadap 27.885 pasien pengguna obat GLP-1, para peneliti dari lembaga riset medis nirlaba 23andMe menemukan kaitan pada dua varian gen yang berbeda. Varian rs10305420 pada reseptor GLP-1 cenderung berkaitan dengan penurunan berat badan yang sedikit lebih besar.
Sementara itu, varian rs1800437 dikaitkan dengan risiko mual dan muntah pada pengguna tirzepatide. Temuan ini tidak menunjukkan kaitan yang jelas dengan besarnya penurunan berat badan.
| Varian Gen | Temuan Utama | Kaitan dengan Penggunaan Obat |
|---|---|---|
| rs10305420 | Cenderung terkait penurunan berat badan yang sedikit lebih besar | Ditemukan pada analisis pasien pengguna obat GLP-1 |
| rs1800437 | Terkait meningkatnya risiko mual dan muntah | Terlihat pada pasien yang mengonsumsi tirzepatide, tetapi tidak berkaitan dengan besar penurunan berat badan |
Hasil itu dipublikasikan dalam jurnal Nature dan membuka peluang pemanfaatan informasi genetik untuk membantu memilih terapi obesitas yang lebih tepat. Obat agonis reseptor GLP-1, seperti semaglutide yang dipasarkan dengan nama Wegovy dan tirzepatide, bekerja dengan meniru hormon alami yang diproduksi usus.
Obat-obatan ini membantu mengendalikan nafsu makan, mengatur pelepasan insulin, serta memperlambat proses pencernaan. Karena mekanisme tersebut, jutaan orang di seluruh dunia memakainya untuk mengatasi obesitas.
Respons awal juga memberi gambaran hasil akhir
Selain faktor genetik, ada pula petunjuk bahwa respons awal terapi ikut membedakan hasil akhir. Dalam analisis terbaru yang dipresentasikan pada European Congress on Obesity (ECO) 2026, Novo Nordisk melaporkan data pengguna Wegovy dosis 7,2 miligram.
Menurut laporan CNBC International, pasien dalam kelompok itu mengalami penurunan berat badan rata-rata hampir 21 persen setelah 72 minggu terapi. Namun, kelompok early responders mencatat hasil yang lebih besar.
Mereka yang sudah kehilangan setidaknya 15 persen berat badan dalam 24 minggu pertama mampu mencapai penurunan rata-rata 27,7 persen. Dr. Dror Dicker, Associate Clinical Professor of Internal Medicine pada Faculty of Medicine and Health Sciences, Tel Aviv University, Israel, mengatakan dalam keterangan yang dikutip CNBC International dari rilis Novo Nordisk bahwa pasien yang tidak menunjukkan respons awal tetap bisa mengalami penurunan berat badan yang substansial dan bermakna secara klinis.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari kelompok dengan hasil paling tinggi. Banyak pasien tetap memperoleh manfaat penting selama pengobatan berlangsung, meski respons awal mereka tidak secepat kelompok lain.
Para peneliti menilai perbedaan respons terhadap terapi GLP-1 masih perlu dipahami lebih jauh. Karena itu, efektivitas dan keamanan obat antiobesitas kemungkinan tetap menjadi perhatian utama dalam beberapa tahun ke depan.
