Riwayat Hipertensi Temon Menjadi Peringatan, Gejala Sering Tertahan hingga Serangan Jantung

Author: Redaksi Android62

Serangan jantung yang merenggut nyawa komedian Simson Rarameha Ngadang, atau Temon, kembali menyorot bahaya hipertensi yang kerap datang tanpa keluhan jelas. Kondisi tekanan darah tinggi itu dikenal sebagai salah satu pemicu utama gangguan jantung, sementara kerusakan organ bisa berlangsung pelan sebelum gejala terasa.

Temon meninggal pada Minggu (12/7) pukul 08.42 WIB. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, terutama putri kelimanya, Rambu, yang menggambarkan sang ayah sebagai sosok kuat dan jarang mengeluhkan kondisi kesehatannya.

Keluhan yang sering disimpan sendiri

Rambu menyebut Temon tidak terbiasa mengeluh meski sedang sakit. Ia mengatakan keluarga lain lebih sering menangani urusan kesehatan sang ayah, sementara Temon cenderung menahan rasa tidak nyamannya sendiri.

“Kadang sih dengernya ditahan sih. Jadi yang sering ngurus Papa kan ada kakak sama abang kan. Jadi saya kurang tahu detailnya kayak gimana, cuma sering dikabarin update-annya saja gimana, terus sering nanya kabar gitu. Kalau ngeluh ke saya sih enggak. Kayak di depan saya kayak ya sudah kuat gitu,” kata Rambu di rumah duka kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Minggu (12/7/2026).

Ia juga menegaskan bahwa kebiasaan memendam keluhan itu sudah lama melekat pada ayahnya. Menurut Rambu, Temon hampir tidak pernah menyampaikan sakit yang dirasakannya secara langsung.

“Enggak, Papa tuh enggak pernah ngeluh kalau sakit. Sering dipendam,” tuturnya.

Hipertensi dan risiko yang tidak selalu terasa

Hipertensi atau tekanan darah tinggi dikenal sebagai salah satu penyebab utama serangan jantung. Kondisi ini kerap disebut sebagai silent killer karena dapat muncul tanpa tanda yang jelas, tetapi tetap merusak tubuh dari waktu ke waktu.

Serangan jantung terjadi saat aliran darah ke jantung berkurang atau tersumbat secara drastis. Penyumbatan itu umumnya dipicu penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain di arteri koroner.

Kemenkes RI menyebut seseorang didiagnosis hipertensi jika hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan tekanan sistol ≥ 140 mmHg dan/atau tekanan diastol ≥ 90 mmHg pada lebih dari 1 kali kunjungan. Jika tidak dikontrol, hipertensi dapat memengaruhi kerja jantung serta organ utama lain seperti ginjal dan otak.

Health.detik.com mengutip Times of India yang menyoroti bahwa kerusakan organ akibat darah tinggi sering kali tidak disadari sampai gejalanya mulai terasa. Kardiolog dari Amrita Hospital, dr Ashish Kumar, mengatakan bahaya tekanan darah tinggi bukan hanya soal kematian mendadak.

“Bukan kematian mendadak yang membuat tekanan darah tinggi berbahaya; melainkan kerusakan yang terjadi seiring waktu. Sebelum serangan jantung, stroke, atau gagal ginjal, tubuh hampir selalu mengirimkan sinyal-sinyal kecil,” kata dr Ashish Kumar.

Kondisi inilah yang membuat riwayat hipertensi perlu mendapat perhatian serius. Ketika keluhan sering ditahan dan pemeriksaan tidak rutin dilakukan, risiko komplikasi bisa berkembang tanpa disadari sampai keadaan memburuk.

Berita Terbaru