Persetujuan akses khusus atas retatrutide memicu gelombang pertanyaan baru di Washington. Obat pelangsing yang masih menjalani uji klinis fase 3 itu belum punya izin edar dari FDA, tetapi satu pasien berusia 79 tahun disebut mendapat jalan khusus melalui program Compassionate Use atau Expanded Access.
Kasus ini menjadi sorotan karena retatrutide bukan obat biasa. Obat besutan Eli Lilly tersebut bekerja pada tiga reseptor hormon sekaligus, yaitu GLP-1, GIP, dan glukagon, sehingga hasil uji klinisnya dilaporkan mampu menurunkan berat badan rata-rata 24% hingga 29%.
Obat percobaan yang dianggap sangat menjanjikan
Berbeda dengan Ozempic yang hanya mengandalkan GLP-1, retatrutide disebut sebagai triple agonist. GLP-1 berfungsi menekan rasa lapar, memperlambat pengosongan lambung, dan membantu kontrol gula darah.
Dua reseptor lain memberi efek tambahan yang lebih luas. GIP membantu memperkuat respons insulin dan mengolah lemak lebih baik, sedangkan glukagon dikaitkan dengan pembakaran energi, pemecahan cadangan lemak, dan percepatan metabolisme saat tubuh beristirahat.
Khasiat itu membuat retatrutide sering dibandingkan dengan operasi pengecilan lambung atau gastric bypass. Namun, hingga kini obat tersebut masih berada di tahap uji coba dan belum disetujui FDA untuk penggunaan umum.
Jalur khusus yang hanya dibuka dalam kondisi tertentu
Di luar uji klinis, satu-satunya jalan hukum untuk memperoleh retatrutide adalah melalui Compassionate Use atau Expanded Access. Jalur ini hanya diberikan kepada pasien dengan penyakit serius atau mengancam nyawa, tanpa pilihan pengobatan lain, dan yang tidak bisa ikut uji coba.
STAT News melaporkan bahwa hanya satu permohonan dari ribuan pasien yang diajukan disetujui. Permohonan itu disebut diajukan pada April 2026 untuk seorang laki-laki berusia 79 tahun.
Tiga sumber anonim yang dikutip dalam laporan itu menyebut proses persetujuan melibatkan pejabat kesehatan tingkat tinggi. Informasi tersebut memunculkan dugaan adanya koneksi luar biasa di balik persetujuan itu, meski identitas pasien tidak dibuka ke publik.
Surat keras ke Menteri Kesehatan AS
Sehari setelah laporan itu muncul, Senator Maggie Hassan dari Partai Demokrat mengirim surat terbuka tertanggal 24 Juni 2026 kepada Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Robert F. Kennedy Jr. Ia menuduh pemerintah menerabas aturan dan menggunakan tekanan politik agar orang dekat Donald Trump mendapat retatrutide secara gratis sebelum izin edar terbit.
Hassan juga menyoroti fakta bahwa jutaan warga AS masih membutuhkan obat semacam itu, tetapi sulit mengakses atau membayarnya. Dalam suratnya, ia meminta penjelasan siapa pasien tersebut, siapa yang menyetujui permohonan itu, dan apakah orang itu berada di lingkaran kekuasaan Trump.
Pertanyaan itu segera menyeret nama Donald Trump ke pusat spekulasi. Usia presiden AS yang baru berulang tahun ke-80 pada 14 Juni dianggap cocok dengan profil pasien misterius berusia 79 tahun tersebut.
Bantahan Gedung Putih dan respons Eli Lilly
Gedung Putih membantah tudingan itu pada hari Selasa. Juru bicara Kush Desai menegaskan, “Permohonan itu bukan dari Presiden Trump. Tuduhan ini tidak berdasar.”
Bantahan tersebut belum menjawab apakah pasien yang dimaksud adalah tokoh lain yang dekat dengan pemerintah. Karena itu, pertanyaan publik mengenai proses persetujuan masih tetap terbuka.
Eli Lilly menyatakan bahwa persetujuan yang diberikan tetap mengikuti semua peraturan yang berlaku. Perusahaan itu tidak mengungkap identitas pasien dengan alasan kerahasiaan medis, sementara tekanan politik terhadap Kementerian Kesehatan AS terus meningkat.
