Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan lintasan lari di Lapangan Gasibu tidak akan hilang meski kawasan tersebut masuk rencana revitalisasi. Penjelasan ini langsung meredakan kekhawatiran publik yang sempat muncul setelah beredar kabar Gasibu akan dibelah untuk pembangunan jalan Diponegoro baru.
Dedi menampik informasi itu dan memastikan yang masuk penataan bukan area lintasan lari di tengah lapangan. Ia menyebut bagian yang terdampak justru berada di sisi lain, tepatnya di kawasan sebelah utara.
Lintasan lari tetap dipertahankan
Pernyataan Dedi menjadi penting karena Gasibu selama ini dikenal sebagai salah satu ruang publik utama di Bandung. Banyak warga datang ke tempat itu untuk berlari, berolahraga ringan, atau sekadar berkumpul, sehingga setiap perubahan di kawasan ini selalu menarik perhatian besar.
Saat ditemui di Gedung BI Jabar, Bandung, Senin, Dedi menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu cemas. Ia mengatakan, “Enggak berubah, masih tetap ada, tenang,” untuk menjelaskan bahwa lintasan lari tetap bisa digunakan seperti biasa.
Dengan penegasan itu, pemerintah provinsi ingin menunjukkan bahwa revitalisasi tidak dimaksudkan untuk menutup akses warga. Fungsi Gasibu sebagai ruang terbuka yang aktif tetap dijaga agar tetap bisa digunakan publik.
Penataan diarahkan ke area tertentu
Berdasarkan penjelasan Dedi, fokus revitalisasi berada di ujung utara kawasan Gasibu. Area tersebut berbeda dari lintasan lari yang selama ini menjadi elemen paling sering digunakan warga.
Dokumen penataan yang disiapkan Biro Umum Setda Provinsi Jawa Barat menyebut pekerjaan revitalisasi dijadwalkan berlangsung dari 8 April hingga 6 Agustus 2026. Luas area yang tercantum dalam penataan mencapai 14.642 meter persegi.
Ruang lingkup yang cukup besar itu menunjukkan bahwa pembaruan kawasan memang dirancang secara menyeluruh. Meski begitu, arah penataan tetap diarahkan agar ruang aktivitas warga tidak hilang dari Gasibu.
Gasibu dan Gedung Sate dibuat lebih terhubung
Rencana revitalisasi juga mencakup integrasi kawasan Gasibu dengan Gedung Sate melalui koridor yang lebih tertata. Di dalam konsep itu, dibangun pedestrian dan elemen ruang terbuka publik yang disebut merepresentasikan identitas budaya Jawa Barat.
Kawasan tersebut akan disusun menjadi satu sumbu utama yang menghubungkan Plaza depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, dan Lapangan Gasibu. Penataan ini ditujukan agar hubungan antarkawasan terasa lebih menyatu tanpa mengurangi fungsi lapangan sebagai tempat warga beraktivitas.
Pendekatan itu sekaligus memperkuat posisi Gedung Sate sebagai pusat perhatian di Jawa Barat. Selama ini, kawasan tersebut dinilai kurang terbuka karena keberadaan bangunan tinggi di sekitar Gasibu, sehingga penataan baru diarahkan untuk membuat kawasan lebih terlihat dan mudah diakses publik.
Anggaran proyek ikut menjadi sorotan
Menurut informasi di laman Inaproc, proyek revitalisasi ini memiliki anggaran Rp15 miliar dan sudah ditenderkan pada Maret 2026. Pelaksanaan penataan berlangsung di tengah dorongan efisiensi anggaran daerah, sehingga penggunaan dana publik ikut mendapat perhatian.
Di sisi lain, pemerintah daerah tampak ingin menjaga keseimbangan antara pembaruan wajah kawasan dan keberlanjutan fungsi sosialnya. Gasibu tidak ditempatkan hanya sebagai elemen estetika kota, tetapi juga sebagai tempat warga berolahraga dan berinteraksi secara langsung.
Karena itu, kepastian bahwa lintasan lari tetap ada menjadi poin yang paling disorot dari rencana revitalisasi ini. Di tengah penataan kawasan, Gasibu tetap dipertahankan sebagai ruang publik yang bisa diakses warga tanpa kehilangan fungsi utamanya.
Source: jabar.antaranews.com






