Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan semakin menekan penanganan di lapangan setelah BPBD Provinsi Kalimantan Selatan mencatat 2.481 titik panas atau hotspot. Dari jumlah itu, 81 kejadian karhutla telah menghanguskan sekitar 221,39 hektare lahan.
Fokus pengendalian kini dipusatkan pada wilayah yang paling berisiko, terutama kawasan ring 1 yang berkaitan langsung dengan aktivitas Bandara Internasional Syamsudin Noor. Langkah ini ditempuh agar kebakaran tidak mengganggu penerbangan dan tidak meluas ke area vital.
Ring penanganan karhutla di Kalsel
| Ring | Wilayah | Fokus | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Ring 1 | Kota Banjarbaru, sebagian Kabupaten Banjar, sebagian Kabupaten Barito Kuala, sebagian Kabupaten Tanah Laut | Paling utama | Memiliki objek vital Bandara Internasional Syamsudin Noor |
| Ring 2 | Sebagian Barito Kuala, Tapin, HSS, HSU, HST, hingga Tabalong | Menengah | Berada lebih ke utara |
| Ring 3 | Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru | Pendukung | Tetap masuk dalam skema penanganan |
Wilayah selatan Kalimantan Selatan menjadi area yang paling rentan terhadap kebakaran. Sejumlah titik krusial berada di sekitar Banjarbaru dan Tanah Laut, termasuk Cempaka, Kiram, sebagian Bati-Bati, Liang Anggang, Pengayuan, hingga Kurau.
Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra, menjelaskan bahwa pembagian ring dibuat agar respons penanganan lebih cepat di lokasi yang paling berisiko. Menurut dia, prioritas tertinggi tetap berada di ring 1 karena kawasan tersebut berhubungan langsung dengan bandara.
Di lapangan, hambatan juga masih muncul pada akses menuju titik kebakaran. Salah satu lokasi yang disebut mengalami kendala penanganan adalah kawasan hutan Gunung Raja di Tanah Laut.
Meski begitu, seluruh posko karhutla di 13 kabupaten dan kota di Kalsel kini telah aktif penuh. BPBD juga menyiagakan sarana dan prasarana pendukung, termasuk 7 posko di sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor.
MediaIndonesia.com melaporkan, pengaktifan seluruh posko itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pengendalian karhutla di tengah cuaca kering yang memicu meluasnya titik panas. Dalam kondisi seperti ini, kewaspadaan tetap menjadi kunci agar sebaran api tidak semakin besar di wilayah-wilayah rawan.
Source: mediaindonesia.com






