SMK Budi Luhur menegaskan arah pembelajaran vokasi yang tidak berhenti pada kelulusan. Melalui karya film pendek dan animasi, para siswanya kini diarahkan untuk tampil di ruang yang lebih dekat dengan industri kreatif, termasuk layar bioskop.
Langkah itu terlihat lewat Bluvocation Creative Festival atau BCF, program tahunan berbasis proyek kreatif kewirausahaan yang digelar sekolah tersebut. Program ini menjadi wadah bagi siswa dari jurusan Broadcast, Animasi, dan Rekayasa Perangkat Lunak atau RPL untuk menampilkan karya orisinal mereka.
Karya Siswa Diposisikan Seperti Produk Industri
Dalam BCF, karya pelajar tidak hanya dipamerkan di lingkungan sekolah. Film pendek dan animasi yang dibuat siswa diputar di bioskop, sehingga memberi pengalaman yang lebih dekat dengan cara kerja industri kreatif.
Format itu juga membuat karya siswa tampil di ruang publik yang lebih luas. Dengan begitu, hasil belajar mereka tidak berhenti sebagai tugas sekolah, tetapi bergerak menjadi portofolio yang bisa dilihat secara profesional.
| Program | Fokus | Bentuk Karya |
|---|---|---|
| Bluvocation Creative Festival (BCF) | Proyek kreatif kewirausahaan tahunan | Film pendek dan animasi |
| Jurusan terkait | Broadcast, Animasi, RPL | Karya orisinal siswa |
Dukungan Kemenekraf Menguatkan Arah Vokasi
Kunjungan dan audiensi SMK Budi Luhur ke Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif di Jakarta menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan bagi program tersebut. Dalam pertemuan itu, Kemenekraf menekankan pentingnya pendidikan vokasi sebagai pilar pencetak talenta unggul.
Deputi Bidang Kreativitas Media, Cecep Rukendi, menyatakan pihaknya mendukung BCF karena karya siswa perlu mendapatkan apresiasi sekaligus pengakuan profesional. Ia menilai pendidikan vokasi memang punya peran penting dalam mencetak talenta unggul di sektor kreatif.
Talenta Juara yang Ditargetkan Sekolah
Kepala Sekolah SMK Budi Luhur, Joko Waluyo, mengatakan kunjungan itu juga dipakai untuk memperkenalkan program kreatif dan inovatif sekolah kepada para pemangku kepentingan. Ia menegaskan bahwa siswa SMK Budi Luhur sudah mampu membuat sejumlah film yang tayang di bioskop dan menghasilkan nilai ekonomi.
Joko berharap ada dukungan dan pengakuan dari Kemenekraf atas karya yang telah dihasilkan siswa. Menurut dia, karya para siswa di sekolah tersebut tidak kalah bersaing dengan mahasiswa maupun orang-orang yang sudah lebih ahli di bidangnya.
SMK Budi Luhur juga ingin mendorong siswanya menjadi talenta juara yang siap menghadapi dunia perkuliahan, industri kreatif, dan wirausaha. Sekolah ini berharap ekosistem kreatif yang dibangun bersama asosiasi, komunitas, kreator, filmmaker, dan dunia pendidikan lain bisa ikut menguatkan langkah tersebut.
Dengan dukungan lembaga terkait, jalur vokasi yang ditempuh sekolah ini diarahkan untuk melahirkan lulusan yang siap kerja sekaligus siap berkarya. Dari film hingga animasi, ruang belajar mereka kini diposisikan langsung berhadapan dengan kebutuhan industri kreatif yang sesungguhnya.
Source: www.medcom.id






