Ribuan Pedagang Kaki Lima Bangkok Hilang Dari Jalan, Tradisi Kuliner Ikut Tergerus

Author: Redaksi Android62

Jumlah pedagang kaki lima di Bangkok terus menyusut tajam seiring penertiban trotoar dan relokasi ke lokasi yang sudah ditentukan. Data Bangkok Metropolitan Administration atau BMA menunjukkan penurunan itu sudah lebih dari 60 persen sejak 2022, setara sekitar 10.000 pedagang lebih sedikit yang masih bertahan di jalan.

Perubahan ini membuat wajah kuliner jalanan Bangkok ikut bergeser. Di satu sisi, pemerintah kota ingin menata ruang publik agar arus pejalan kaki lebih lancar, tetapi di sisi lain tekanan itu justru menyentuh salah satu daya tarik terbesar kota bagi wisatawan.

Tekanan yang dirasakan pedagang

Bagi pedagang, aturan baru tidak sekadar soal pindah tempat, tetapi juga soal keberlangsungan hidup harian. Looknam Sinwirakit pernah didenda 1.000 baht saat menjual kue beras ketan goreng seharga 50 baht di Chinatown karena dianggap menghalangi jalan.

Chinatown sendiri termasuk salah satu kawasan wisata tersibuk di Bangkok. Looknam menilai arus pelanggan yang stabil masih sepadan dengan risiko denda karena pedagang juga harus tetap mencari nafkah.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan Wong Jaidee, pedagang durian yang sudah lebih dari dua dekade berjualan. Ia tidak memiliki rencana cadangan dan cemas tidak akan mampu bertahan di Bangkok yang biaya hidupnya tinggi.

Penertiban dan arah kebijakan kota

BMA menargetkan pedagang yang memenuhi jalan utama dengan arus pejalan kaki padat. Pedagang di jalan kecil serta kawasan yang ramai backpacker dan wisatawan masih mendapat kelonggaran lebih besar.

Sebagian pedagang memilih pindah ke pasar informal atau pusat hawker yang disiapkan di lokasi khusus. Namun, banyak pula yang berhenti karena aturan yang lebih ketat atau karena usaha mereka sudah tidak lagi menguntungkan.

Pemerintah kota juga mendorong lebih banyak pedagang masuk ke salah satu dari lima pusat hawker yang dibuka dalam beberapa tahun terakhir. Lokasi terbaru dibuka pada April di dekat Lumphini Park, salah satu kawasan populer di Bangkok.

Di tempat itu, deretan kios makanan dan meja piknik sudah menampung sekitar belasan pedagang yang sebelumnya berjualan di jalan sekitar. Mereka membayar sewa 60 baht per hari untuk kios hawker setelah didorong pindah oleh BMA.

Ada yang merasa lebih nyaman, ada yang terdesak

Tidak semua pedagang menolak perubahan ini. Panissara Piyasomroj, yang sejak 2004 menjual mi untuk para pelari pagi di taman, mengatakan tempat baru lebih praktis karena menyediakan air dan listrik.

Ia juga menilai lapaknya kini berada di bawah atap sehingga lebih terlindung dari panas. Menurutnya, kondisi itu membuat usahanya terasa seperti di-upgrade dan terlihat lebih bersih.

Meski begitu, ada pedagang yang berat meninggalkan lokasi lama yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Thitisakulthip Sang-uamsap, yang telah menjual bakso sayur goreng di dekat Chinatown selama lebih dari 40 tahun, khawatir akan dipaksa pindah.

Ia tinggal di sekitar area itu dan mengatakan tidak akan nyaman jika harus meninggalkan tempat berjualan yang sudah akrab. Ia juga berharap pemerintah bisa lebih empati terhadap pedagang yang lebih tua dan berpenghasilan kecil.

Daya tarik Bangkok yang ikut dipertaruhkan

Bagi banyak pengunjung, trotoar yang ramai, wajan yang mendesis, dan aroma cumi panggang adalah bagian penting dari pengalaman di Bangkok. Suasana itu selama ini ikut membentuk identitas kota di mata wisatawan.

Oliver Peter, turis Jerman, mengatakan Thailand memiliki salah satu kuliner terbaik di dunia dan menyebut Pad Thai sebagai favoritnya. Ia menilai akan sangat disayangkan jika pedagang kaki lima menghilang dari jalan-jalan Bangkok.

Berita Terbaru