Ribuan Pelanggaran Warnai Songkran, 95 Orang Tewas dalam Tiga Hari Awal

Songkran kembali menunjukkan dua wajah yang kontras: di satu sisi penuh warna, di sisi lain menyimpan risiko besar di jalan raya. Dalam tiga hari pertama masa rawan, otoritas Thailand mencatat 581 kecelakaan, 95 korban meninggal, dan 486 orang luka-luka.

Angka itu menempatkan festival Tahun Baru Thailand ini sebagai salah satu periode paling berbahaya bagi pengguna jalan. Di tengah tradisi perang air yang selalu menarik warga lokal dan wisatawan, arus mobilitas yang padat dan perilaku berkendara yang ceroboh membuat keselamatan menjadi perhatian utama.

Makna perayaan yang bertemu risiko jalanan

Songkran bukan semata perayaan basah-basahan di ruang publik. Festival ini menandai Tahun Baru Thailand dan lekat dengan tradisi pembersihan diri, penghormatan kepada orang tua, serta doa untuk keberuntungan.

Namun, suasana perayaan yang meriah juga mendorong lonjakan perjalanan antarkota dan aktivitas masyarakat. Jalan raya pun menjadi lebih padat dari biasanya, sementara potensi pelanggaran lalu lintas ikut meningkat ketika pengendara kehilangan kewaspadaan.

Pemerintah Thailand bahkan sudah lama menyebut masa ini sebagai “Seven Deadly Days”. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan tingginya risiko kecelakaan selama libur Songkran, saat mudik dan perayaan berlangsung bersamaan.

Alkohol masih mendominasi pelanggaran

Wakil Juru Bicara Pemerintah Thailand, Lalida Persvivatana, menegaskan bahwa mengemudi dalam keadaan mabuk tetap menjadi masalah paling serius. Dalam tiga hari awal pengawasan, otoritas menindak 1.750 pelanggaran lalu lintas, dan 92 persen di antaranya terkait alkohol.

Data itu menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya padatnya kendaraan, tetapi juga rendahnya disiplin sebagian pengendara. Dalam kondisi jalan yang ramai, satu keputusan keliru dapat langsung berujung pada kecelakaan fatal.

Wilayah dengan pelanggaran tertinggi

Sejumlah daerah tercatat memiliki angka pelanggaran paling tinggi selama periode pengawasan. Chiang Mai menempati posisi teratas, disusul Nonthaburi dan Samut Prakan.

Berikut ringkasan data utama yang dicatat otoritas:

  1. Kecelakaan lalu lintas: 581 kasus
  2. Korban meninggal: 95 orang
  3. Korban luka: 486 orang
  4. Pelanggaran yang ditindak: 1.750 kasus
  5. Pelanggaran terkait alkohol: 92 persen
  6. Wilayah dengan pelanggaran tertinggi: Chiang Mai, Nonthaburi, dan Samut Prakan

Pemerintah menilai pengawasan yang lebih ketat belum sepenuhnya mampu menekan pelanggaran di lapangan. Saat volume kendaraan meningkat dan keramaian festival memenuhi jalan, risiko tetap tinggi bagi siapa pun yang berkendara tanpa kehati-hatian.

Wisatawan asing ikut menjadi perhatian

Di tengah padatnya perayaan, keselamatan wisatawan asing juga masuk dalam perhatian khusus. Hingga laporan ini disusun, tujuh wisatawan asing dilaporkan mengalami cedera dalam insiden terpisah, tetapi belum ada laporan korban jiwa dari kalangan wisatawan mancanegara.

Kementerian Pariwisata dan Olahraga bersama Biro Polisi Pariwisata menyiapkan layanan darurat untuk membantu situasi di lapangan. Pusat Bantuan Wisatawan atau TAC serta hotline 1155 juga disiagakan selama 24 jam untuk memberi respons cepat jika terjadi keadaan darurat.

Menjelang puncak perayaan, pemerintah kembali mengingatkan warga dan wisatawan agar tidak mengemudi setelah minum alkohol, mematuhi aturan lalu lintas, dan tetap waspada di tengah kerumunan yang memenuhi jalanan Thailand.

Source: www.medcom.id

Berita Terkait