Ribuan Warga Iran Tewas Dalam Serangan AS-Israel, 40 Persen Jenazah Sempat Tak Dikenali

Sedikitnya 3.375 warga Iran dilaporkan tewas dalam konflik bersenjata melawan Amerika Serikat dan Israel selama 40 hari. Data itu menunjukkan besarnya dampak serangan yang tidak hanya menyasar sasaran militer, tetapi juga wilayah sipil dengan korban dari berbagai kelompok masyarakat.

Kepala Organisasi Kedokteran Forensik Iran, Abbas Masjedi, menyebut banyak korban berasal dari kalangan anak-anak, perempuan, lansia, hingga pekerja sipil. Ia juga mengatakan sekitar 40 persen jenazah sempat sulit dikenali karena daya rusak bom dan rudal yang digunakan dalam serangan.

Korban sipil mendominasi temuan forensik

Dari data yang disampaikan Masjedi, komposisi korban terdiri atas 2.875 pria dan 496 perempuan. Selain itu, empat jenazah masih belum teridentifikasi, meski sebagian besar korban lainnya sudah berhasil dikenali dan diserahkan kepada keluarga.

Kondisi ini memperlihatkan betapa besar kehancuran yang ditinggalkan serangan udara di sejumlah wilayah Iran. Dalam laporan tersebut, tim forensik menjadi salah satu pihak yang paling terdampak oleh beratnya proses identifikasi jenazah di lapangan.

Serangan ke area sipil ikut menambah jumlah korban

Dampak paling menonjol disebut terjadi di Minab, Iran selatan. Serangan di wilayah itu menghantam sebuah sekolah dasar dan menewaskan lebih dari 160 anak.

Peristiwa itu menjadi salah satu contoh dari meluasnya efek konflik yang tidak berhenti pada target militer semata. Serangan yang menghantam area sipil membuat angka korban jiwa meningkat sekaligus menyisakan trauma kemanusiaan yang sulit diukur hanya dengan data statistik.

Balasan Iran dan meredanya pertukaran serangan

Konflik ini bermula setelah serangan besar-besaran yang menargetkan berbagai wilayah di Iran. Sebagai balasan, militer Iran kemudian meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target Amerika Serikat dan Israel di kawasan.

Pertukaran serangan tersebut kemudian mulai mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi Pakistan diberlakukan pada 8 April selama dua pekan. Namun, ketegangan belum sepenuhnya hilang karena isu keamanan regional masih terus membayangi, termasuk soal Selat Hormuz.

Washington mendorong jalur perundingan

Di tengah situasi itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mengirim delegasi ke Islamabad, Pakistan, untuk membuka peluang perundingan dengan Iran. Ia juga menyebut pembicaraan lanjutan dijadwalkan berlangsung awal pekan ini, meski belum dijelaskan siapa saja yang akan mewakili Washington.

Sebelumnya, putaran pertama yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance disebut berakhir tanpa kesepakatan. Dalam pernyataan terpisah, Trump juga melontarkan ancaman keras jika tawaran Amerika Serikat tidak diterima.

Teheran belum memberi lampu hijau

Pemerintah Iran hingga kini belum menyetujui rencana pengiriman delegasi ke Pakistan. Melalui media resminya, Teheran menyebut keputusan itu belum diambil selama blokade laut oleh AS masih berlangsung.

Iran juga disebut mempertimbangkan untuk menolak perundingan tersebut karena menilai tuntutan Washington terlalu berlebihan, tidak realistis, dan berubah-ubah. Di sisi lain, blokade laut yang terus berjalan dianggap menyalahi gencatan senjata dan memperburuk situasi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut blokade AS sebagai tindakan ilegal. Ia menegaskan bahwa langkah itu merupakan pelanggaran gencatan senjata dan tindakan kriminal yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Di tengah masih adanya korban yang belum teridentifikasi dan jalur diplomasi yang belum menemukan titik terang, dampak konflik AS-Israel melawan Iran tetap terasa kuat, baik di ranah kemanusiaan maupun politik regional. Keluarga korban pun masih menunggu kepastian di antara reruntuhan serangan yang menyisakan luka panjang.

Source: www.suara.com

Berita Terkait