Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini menempatkan hasil riset kampus sebagai dasar nyata dalam penyusunan kebijakan publik. Arah ini membuat inovasi, penelitian, dan pengabdian masyarakat tidak berhenti di ruang akademik, melainkan diarahkan untuk menjawab persoalan warga.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin menyebut kolaborasi dengan perguruan tinggi terus meluas. Hingga saat ini, Pemprov Jateng telah menjalin kerja sama dengan sekitar 50 perguruan tinggi.
Kolaborasi kampus tidak berhenti di nota kesepahaman
Gus Yasin menegaskan kerja sama dengan perguruan tinggi tidak boleh dipahami sebatas penandatanganan nota kesepahaman. Menurut dia, yang lebih penting adalah tindak lanjut program dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Ia menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah atau LKMM-TM 2026 di Universitas Dian Nuswantoro, Semarang. Dalam forum itu, ia menekankan bahwa kebijakan pemerintah harus ditopang kajian, penelitian, dan literasi keilmuan.
Sejumlah program sudah berjalan bersama kampus
Salah satu kerja sama yang dijalankan Pemprov Jateng adalah dengan Universitas Diponegoro untuk mengembangkan teknologi desalinasi. Teknologi ini digunakan untuk mengubah air laut menjadi air tawar dan diarahkan membantu masyarakat pesisir yang terdampak rob dan krisis air bersih.
Kerja sama lain juga dilakukan dengan Universitas Sebelas Maret dalam penanganan dan pengelolaan kawasan Rawa Pening. Selain itu, perguruan tinggi turut dilibatkan dalam program Kuliah Kerja Nyata tematik yang diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.
Di Udinus, kolaborasi itu melahirkan program pemberdayaan yang melibatkan ratusan mahasiswa. Salah satu kegiatannya adalah kampanye stop boros pangan dan edukasi pengurangan sampah pangan.
Masukan mahasiswa ikut masuk ke kebijakan daerah
Gus Yasin menilai kampus memiliki posisi strategis sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi yang dipercaya masyarakat. Karena itu, ia mendorong perguruan tinggi untuk terus hadir menjawab persoalan riil, termasuk isu lingkungan, ketahanan pangan, dan transformasi digital.
Ia juga menyebut masukan dari kampus dan mahasiswa menjadi bahan yang diambil pemerintah provinsi untuk dijadikan kebijakan. Menurutnya, sinergi semacam itu penting agar kebijakan daerah lebih dekat dengan kebutuhan lapangan.
Mahasiswa diminta bijak menghadapi AI
Dalam kesempatan yang sama, Gus Yasin mengapresiasi pelaksanaan LKMM-TM 2026 yang digagas Udinus. Ia menilai kegiatan itu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, inovasi, dan memperluas wawasan di tengah perubahan teknologi digital yang cepat.
Ia juga mengingatkan agar kecerdasan buatan atau artificial intelligence disikapi secara bijak. Menurutnya, AI memang memberi kemudahan, tetapi jangan sampai membuat masyarakat kehilangan budaya belajar dan kemampuan berpikir kritis.
