Risiko Jantung Menekan Pekerja Pria, Kanker Lebih Banyak Dialami Perempuan

Pola gangguan kesehatan pekerja di Indonesia menunjukkan perbedaan tajam antara laki-laki dan perempuan. Penyakit kardiovaskular paling banyak tercatat pada pekerja laki-laki, sedangkan neoplasma atau kanker menjadi keluhan terbesar pada pekerja perempuan.

Perbedaan tersebut menegaskan bahwa pencegahan tidak dapat disamakan untuk semua kelompok pekerja. Pemeriksaan berkala dan perhatian terhadap perubahan kondisi tubuh diperlukan agar risiko dapat dikenali lebih cepat.

Gambaran Risiko Kesehatan Pekerja

Laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 mencatat penyakit kardiovaskular dialami 81% pekerja laki-laki. Pada kelompok yang sama, penyakit muskuloskeletal berada di posisi berikutnya dengan proporsi 68%.

Kelompok PekerjaKeluhan KesehatanProporsi
Laki-lakiPenyakit kardiovaskular81%
Laki-lakiPenyakit muskuloskeletal68%
PerempuanNeoplasma atau kanker72%
PerempuanCedera atau trauma48%
PerempuanPenyakit menular dan gangguan pencernaan48%

Pada pekerja perempuan, neoplasma atau kanker tercatat dengan proporsi 72%. Keluhan lain yang juga muncul adalah cedera atau trauma serta penyakit menular dan gangguan pencernaan, masing-masing sebesar 48%.

Faktor Risiko pada Laki-Laki

Dokter umum Irwan Heriyanto menilai tingginya penyakit kardiovaskular dan gangguan muskuloskeletal pada laki-laki berkaitan dengan aktivitas fisik serta faktor risiko kesehatan. Beban aktivitas dan gaya hidup yang kurang baik dapat membentuk risiko sejak usia produktif.

Menurut Irwan, kondisi tersebut umumnya mulai terjadi pada usia 30 hingga 49 tahun. Keterangan itu disampaikan dalam konferensi pers Halodoc di Jakarta pada 16 Juli 2026.

Gangguan muskuloskeletal dapat menjadi perhatian tersendiri karena berhubungan dengan aktivitas fisik pekerja. Sementara itu, penyakit kardiovaskular perlu diperhatikan meski gejalanya belum selalu terasa berat pada tahap awal.

Kanker dan Faktor Biologis Perempuan

Kasus kanker pada perempuan yang tercatat terutama mencakup kanker payudara dan kanker rahim. Irwan menjelaskan bahwa organ reproduksi serta pengaruh hormon membuat perempuan memiliki faktor risiko yang berbeda dari laki-laki.

Faktor biologis tidak dapat diubah, tetapi risiko kanker tidak hanya dipengaruhi oleh hormon. Pola makan kurang sehat, paparan polusi, faktor lingkungan, dan riwayat kanker dalam keluarga juga dapat berkontribusi.

Karena itu, perhatian pada kanker pada perempuan tidak cukup berhenti pada satu faktor saja. Kondisi fisik, kebiasaan sehari-hari, lingkungan, dan faktor biologis perlu dilihat secara bersamaan.

Pentingnya Skrining dan Kondisi Psikologis

Irwan menekankan skrining berkala, terutama untuk menemukan kanker sedini mungkin. Peluang keberhasilan pengobatan dinilai lebih besar ketika kanker terdeteksi pada tahap awal dibandingkan setelah memasuki stadium lanjut atau menyebar ke organ lain.

Keluhan yang berulang atau tidak membaik meski telah berobat berkali-kali juga tidak boleh diabaikan. Kondisi tersebut perlu diperiksa lebih lanjut agar penyebabnya dapat diketahui.

Selain masalah fisik, kesehatan pekerja juga dipengaruhi kondisi psikologis. Stres berkepanjangan dapat memicu perubahan hormon dan menurunkan daya tahan tubuh sehingga seseorang lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Data ini menjadi pengingat bahwa perlindungan kesehatan pekerja perlu menyesuaikan faktor risiko setiap individu. Upaya pencegahan, pemeriksaan rutin, dan respons terhadap keluhan tubuh perlu dilakukan secara konsisten.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terkait