Biaya layanan kesehatan di Indonesia diproyeksikan meningkat 15,1 persen pada 2026. Kenaikan tersebut melampaui rata-rata global 14 persen dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan proyeksi kenaikan tertinggi kelima di Asia Pasifik.
Tekanan biaya tidak hanya dipicu penyakit berat yang membutuhkan perawatan panjang. Keluhan yang awalnya ringan, tetapi terlambat ditangani, dapat berkembang menjadi kondisi lebih serius dan meningkatkan beban perusahaan serta produktivitas pekerja.
Akses Cepat Menjadi Faktor Pengendalian Biaya
Data Halodoc menunjukkan konsultasi digital menangani sekitar 24 persen dari seluruh kasus kesehatan. Namun, layanan tersebut hanya menyerap 8 persen dari total biaya layanan kesehatan.
Lebih dari 95 persen kasus yang ditangani secara digital dapat diselesaikan tanpa kunjungan langsung ke fasilitas kesehatan dalam 30 hari setelah konsultasi. Temuan ini menunjukkan akses awal dapat membantu mencegah keluhan berkembang akibat penundaan pemeriksaan.
Pada pasien dengan penyakit kronis, penggunaan layanan Digital Cashless Outpatient atau DCO disebut dapat menurunkan biaya pengobatan hingga 66,4 persen dalam 90 hari. Perbandingan itu merujuk pada pasien yang tidak menggunakan layanan digital tersebut.
Halodoc for Business menyediakan konsultasi dokter selama 24 jam, DCO, pengiriman obat, serta pengelolaan administrasi dan klaim kesehatan. Layanan itu juga mencakup pendampingan pasien melalui HaloAssist.
Perusahaan turut memakai HILDA atau Halodoc Intelligent Digital Assistant untuk memverifikasi kepesertaan, memantau tagihan medis, dan memvalidasi klaim secara otomatis. Teknologi AI tersebut diklaim dapat menekan biaya pengelolaan klaim kesehatan hingga 18 persen.
Risiko Kesehatan Berubah pada Tiap Usia
Laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 memetakan risiko kesehatan pekerja berdasarkan lebih dari 1 juta transaksi layanan kesehatan. Laporan dari Halodoc for Business itu juga mencakup lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 pada kuartal pertama 2026 di lebih dari 30 sektor industri.
Pola yang terlihat menunjukkan pergeseran risiko dari penyakit infeksi menuju penyakit kronis seiring pertambahan usia pekerja. Kebutuhan intervensi kesehatan pun tidak dapat diseragamkan untuk seluruh kelompok karyawan.
| Kelompok Usia | Risiko Menonjol | Dampak Utama |
|---|---|---|
| Usia muda | ISPA | Keluhan paling sering muncul |
| 30-49 tahun | Gangguan muskuloskeletal | Masalah otot dan tulang mulai dominan |
| 50 tahun ke atas | Penyakit kardiovaskular dan kanker | Penyumbang biaya kesehatan terbesar |
Pada pekerja usia muda, infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan. Sementara itu, gangguan muskuloskeletal mulai mendominasi pada kelompok usia 30 hingga 49 tahun.
Risiko yang lebih mahal muncul pada pekerja berusia 50 tahun ke atas. Penyakit kardiovaskular dan kanker menjadi penyumbang biaya kesehatan terbesar bagi kelompok tersebut.
Perbedaan Risiko Berdasarkan Jenis Kelamin
Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, menyebut 81 persen pasien penyakit kardiovaskular adalah laki-laki. Di sisi lain, 72 persen pasien kanker merupakan perempuan.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa skrining kesehatan perlu disusun sesuai profil risiko pekerja. Program yang bersifat umum berisiko tidak menjangkau kebutuhan utama tiap kelompok.
ISPA tercatat sebagai diagnosis terbanyak dalam layanan rawat jalan. Untuk rawat inap, infeksi saluran pencernaan menjadi penyebab yang paling sering membuat pasien harus dirawat di rumah sakit.
Kedua kondisi tersebut dinilai dapat dicegah melalui intervensi kesehatan yang relatif sederhana. Namun, kemudahan akses layanan masih menentukan apakah pekerja segera memeriksakan diri atau memilih menunda penanganan.
Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, menilai pengelolaan kesehatan karyawan masih banyak dilakukan secara reaktif. Pemanfaatan data diperlukan untuk mengenali risiko dominan dan menentukan area yang paling membutuhkan intervensi.
Dalam situasi biaya kesehatan yang terus meningkat, pemangkasan anggaran saja dinilai tidak cukup. Perusahaan perlu mengarahkan layanan kesehatan pada risiko yang paling relevan agar penanganan dapat dilakukan lebih awal dan lebih terukur.
Source: www.suara.com






