Risiko Perempuan Saat Bencana Jauh Lebih Tinggi, Krisis Iklim Bikin Akses Kesehatan Kian Rentan

Author: Redaksi Android62

Perempuan menghadapi risiko yang jauh lebih besar saat bencana terkait krisis iklim datang. Data yang dikutip CARE Indonesia dari BNPB menunjukkan perempuan memiliki risiko 14 kali lebih besar menjadi korban bencana dibandingkan laki-laki, sehingga persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai dampak yang merata.

Kerentanan itu tidak muncul hanya ketika proses evakuasi berlangsung. Dalam situasi sehari-hari, perempuan kerap memikul tanggung jawab besar untuk menjaga kesehatan keluarga, tetapi pada saat yang sama masih sering tersisih dari akses layanan yang seharusnya melindungi mereka.

Ketimpangan tersebut membuat dampak krisis iklim terasa berlapis. Risiko kesehatan meningkat, sementara kemampuan untuk pulih setelah bencana justru melemah karena dukungan sosial dan layanan dasar belum memadai.

Wilayah yang terdampak tidak menghadapi ancaman yang sama

Tekanan dari krisis iklim juga berbeda di tiap daerah. Penelitian kolaboratif Universitas Indonesia, Monash University, dan The University of Melbourne menegaskan bahwa kondisi geografis sangat menentukan jenis ancaman yang dihadapi masyarakat.

Peneliti utama dari UI, Dr. Ns. Suryane Sulistiana Susanti, menyebut wilayah seperti Marunda dan Pekalongan kerap menghadapi banjir. Sementara itu, daerah di Indonesia timur lebih rentan terhadap kekeringan, sehingga tantangan kesehatannya juga berbeda.

Perbedaan risiko ini penting dalam penyusunan kebijakan. Respons untuk wilayah rawan banjir tidak bisa disamakan dengan daerah yang berhadapan dengan kekeringan berkepanjangan.

Sistem kesehatan dituntut lebih kuat dari layanan saat sakit

Di tengah ancaman yang makin kompleks, penguatan ketahanan kesehatan menjadi kebutuhan mendesak. Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Anas Ma’ruf, menilai sektor kesehatan harus diperkuat melalui kerja sama lintas pihak.

Ia menekankan bahwa kesehatan tidak cukup diposisikan hanya sebagai urusan adaptasi. Sektor ini juga memegang peran penting dalam mitigasi, mulai dari fasilitas layanan sampai intervensi di tingkat desa.

Penguatan pada level dasar menjadi sangat penting karena risiko kesehatan akibat krisis iklim paling cepat dirasakan masyarakat di lapangan. Jika layanan dasar rapuh, kelompok rentan akan semakin sulit memperoleh pertolongan tepat waktu.

Perempuan dan anak perlu jadi prioritas perlindungan

Dokter sekaligus praktisi Spesial Kesehatan Masyarakat dan Health & Wellbeing Partner AMAN Solution, Dr. Samuel J. Olam, menyoroti pentingnya akses perawatan kesehatan yang menyeluruh dan tepat sasaran. Fokus itu perlu diarahkan terutama pada kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.

Masalah yang muncul juga tidak berhenti di layanan medis. Krisis iklim bersinggungan dengan informasi, perlindungan sosial, kesiapsiagaan bencana, dan kemampuan komunitas merespons keadaan darurat.

Karena itu, perlindungan bagi perempuan tidak bisa berdiri sendiri. Respons yang efektif perlu menghubungkan sistem kesehatan, kebijakan bencana, dan dukungan sosial dalam satu jalur kerja yang saling menguatkan.

Kebutuhan paling mendesak di lapangan

Dari berbagai pandangan tersebut, ada sejumlah langkah yang paling mendesak. Akses layanan kesehatan harus lebih mudah dijangkau perempuan, fasilitas kesehatan perlu diperkuat hingga tingkat desa, dan respons bencana harus menyesuaikan karakteristik wilayah.

Perempuan juga perlu masuk dalam prioritas perlindungan saat bencana terjadi. Pada saat yang sama, kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan praktisi kesehatan harus diperluas agar penanganan tidak berhenti pada respons sesaat.

Tanpa perbaikan itu, krisis iklim akan terus memperdalam ketimpangan yang sudah ada. Perempuan akan tetap berada di garis depan risiko ketika bencana datang bersamaan dengan rapuhnya akses kesehatan dan perlindungan sosial.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru