Roberto Martinez memilih memandang Piala Dunia 2026 sebagai ajang yang penuh jebakan, bukan sekadar panggung besar bagi Portugal. Pelatih asal Spanyol itu menilai format baru dan kondisi penyelenggaraan yang kompleks bisa membuat turnamen berjalan lebih kacau dari biasanya.
Portugal memang datang dengan status unggulan di Grup K bersama DR Kongo, Uzbekistan, dan Kolombia. Namun, label favorit tidak membuat Martinez merasa aman, karena ia justru menekankan bahwa turnamen ini menuntut kesiapan penuh sejak awal.
Salah satu hal yang paling ia soroti adalah jumlah peserta yang membengkak menjadi 48 tim. Menurut Martinez, skala sebesar itu membuat kompetisi menjadi lebih panjang dan hasil pertandingan lebih sulit diprediksi.
“Ada 48 tim yang berjuang, itu jumlah yang besar. Kita sedang membicarakan kompetisi yang tidak bisa semua orang tahu, kompetisi yang panjang. Kami harus mempersiapkan diri untuk tampil dalam keadaan apapun,” kata Martinez seperti dikutip Reuters.
Bagi Portugal, pesan itu berarti satu hal penting: jangan terjebak rasa percaya diri berlebihan. Martinez ingin skuadnya siap menghadapi setiap kemungkinan, termasuk situasi yang tidak nyaman sepanjang turnamen.
Cuaca dan zona waktu jadi tantangan nyata
Selain format yang baru, Martinez juga menaruh perhatian besar pada faktor non-teknis. Ia menyebut perpindahan antar kota penyelenggara dengan zona waktu berbeda sebagai masalah yang tidak sederhana bagi para pemain.
Cuaca ikut masuk daftar kekhawatirannya. Panas, kelembapan, hingga kemungkinan badai disebut dapat mengganggu ritme pertandingan sekaligus menyulitkan persiapan tim dari satu laga ke laga berikutnya.
“Belum lagi ada kompleksitas bermain dengan zona waktu yang berbeda. Kemudian persoalan cuaca, panas, kelembapan, dan momen ketidakpastian jika badai datang,” ujarnya.
Situasi seperti itu membuat Portugal tidak cukup hanya kuat dalam urusan taktik. Martinez ingin timnya punya daya tahan fisik dan kemampuan adaptasi yang baik agar tetap stabil selama turnamen yang panjang.
Pengalaman pemain senior dianggap krusial
Di tengah berbagai tantangan itu, Martinez menilai pengalaman para pemain senior akan sangat membantu. Ia melihat Piala Dunia 2026 akan menghadirkan banyak kondisi yang jauh berbeda dari pertandingan yang biasa dijalani tim-tim Eropa.
“Ada banyak aspek yang sangat sangat akan berbeda dengan permainan yang biasa kami jalani di Eropa. Maka, pengalaman dalam skuad akan sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Bagi Martinez, pengalaman bukan hanya soal jam terbang, tetapi juga soal kematangan saat menghadapi tekanan. Dalam turnamen sebesar Piala Dunia, kemampuan menjaga konsistensi sering kali ditentukan oleh cara tim merespons perubahan kondisi di lapangan maupun di luar lapangan.
Portugal membawa sejarah panjang ke turnamen berikutnya
Piala Dunia 2026 akan menjadi penampilan kesembilan Portugal di ajang tersebut. Pada edisi sebelumnya, langkah mereka terhenti di perempat final setelah kalah dari Maroko.
Prestasi terbaik Portugal masih tercatat pada 1966, ketika mereka finis di posisi ketiga usai menaklukkan Uni Soviet. Catatan itu kini kembali dibawa Cristiano Ronaldo dan rekan-rekannya ke panggung berikutnya.
Martinez menutup pandangannya dengan mengingatkan bahwa Piala Dunia selalu menyimpan banyak hambatan. Ia juga mengakui bahwa unsur keberuntungan tetap punya tempat dalam perjalanan sebuah tim di turnamen sebesar itu.







