Di Hong Kong, sebuah toko tanpa karyawan manusia mulai menjadi perhatian karena menunjukkan arah baru ritel harian. Ro-bodega di kawasan tepi laut Hung Hom beroperasi dengan satu robot humanoid yang menangani hampir seluruh aktivitas toko selama 24 jam.
Robot itu bernama Xiao Gai, buatan perusahaan teknologi kecerdasan buatan dan robotika asal Beijing, Galbot. Tugasnya mencakup mengisi rak, mengambil pesanan, hingga membantu proses pembayaran tanpa jeda.
Robot yang menggantikan pekerjaan dasar di toko
Xiao Gai memiliki tinggi 1,67 meter dan rentang lengan 1,8 meter. Selain dirancang untuk pekerjaan fisik, robot ini juga dibuat agar dapat berkomunikasi dengan ramah dan berbicara dalam berbagai bahasa.
Isi tokonya sendiri dibuat menyerupai minimarket pada umumnya. Produk yang dijual meliputi camilan, minuman, hingga obat-obatan bebas, sehingga pengalaman belanja tetap terasa akrab bagi pengunjung.
Sinyal baru untuk ritel modern
Kehadiran toko ini memunculkan pertanyaan besar bagi pekerja ritel, termasuk karyawan jaringan minimarket seperti Indomaret dan Alfamart. Jika model seperti ini terus berkembang dan biayanya makin terjangkau, peran manusia dalam sejumlah tugas operasional bisa makin menyempit.
Ancaman itu tidak hanya datang dari robot yang menata barang, tetapi juga dari sistem yang mampu memproses transaksi dan melayani pelanggan tanpa henti. Dengan karakter seperti itu, toko otomatis berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia pada fungsi-fungsi dasar.
Proyek Ro-bodega didukung oleh Hong Kong Investment Corporation dan disebut sebagai bukti bahwa AI sudah masuk ke kehidupan sehari-hari. Galbot bahkan memperkirakan toko tersebut dapat menambah jumlah pengunjung kawasan sekitar hingga 40 persen karena faktor kebaruan dan daya tariknya.
Ekspansi masih berjalan, risiko tetap ada
Perusahaan itu juga menyiapkan ekspansi lebih lanjut dengan rencana meluncurkan 100 toko kapsul serupa di 10 kota besar lainnya. Sebelumnya, Galbot sudah membuka toko sejenis di pusat keramaian Summer Palace, Beijing.
Namun, otomatisasi di berbagai sektor masih memperlihatkan tantangan. Di Jepang, Japan Airlines baru saja menguji coba robot penanganan bagasi di Bandara Haneda, yang menunjukkan penerapan teknologi ini masih berlangsung bertahap.
Contoh kegagalan juga masih muncul di sektor lain. Awal tahun ini, video viral memperlihatkan robot pelayan restoran yang tiba-tiba tidak terkendali dan melempar peralatan makan ke mana-mana.
Di Stockholm, agen AI yang ditugaskan mengelola kedai kopi justru menghabiskan sebagian besar anggaran dalam waktu kurang dari sebulan. Kesalahan itu termasuk memesan 3.000 pasang sarung tangan karet yang tidak diperlukan.
Rangkaian contoh tersebut memperlihatkan bahwa otomatisasi belum sepenuhnya bebas risiko. Meski begitu, Ro-bodega di Hong Kong tetap memberi gambaran bahwa pengganti pegawai toko tradisional sudah mulai hadir dan berpeluang menjadi bagian dari lanskap ritel masa depan.
