Bagi banyak satwa liar, lubang pohon adalah ruang kecil yang memberi perlindungan besar. Rongga ini bisa menjadi tempat beristirahat, membesarkan anak, hingga berlindung dari cuaca buruk dan predator.
Menariknya, tidak semua hewan yang tinggal di sana mampu membuat lubang sendiri. Sebagian memahat rongga baru, sementara yang lain lebih sering memakai sarang bekas atau celah alami yang sudah tersedia.
Penghuni yang paling sering membuka jalan
Burung pelatuk termasuk satwa yang paling penting dalam urusan ini. Mereka mematuk kayu untuk mencari serangga dan getah, lalu membentuk rongga yang aman untuk sarang.
Patukan burung ini sangat cepat, bahkan bisa mencapai sekitar 20 kali per detik. Dalam sehari, burung pelatuk rata-rata mematuk 8.000 hingga 12.000 kali, dan tubuhnya memiliki adaptasi khusus untuk mengurangi risiko cedera.
Penyewa bekas sarang yang cermat
Setelah lubang terbentuk, banyak hewan lain ikut memanfaatkannya. Tupai pohon, misalnya, lebih sering memakai sarang bekas burung pelatuk atau lubang alami yang sudah terbentuk di batang pohon.
Begitu menemukan ruang yang cocok, tupai biasanya hanya memperbesarnya sedikit. Di dalam rongga itu, mereka menyusun sarang dari dedaunan, rerumputan, dan bulu tupai untuk tidur dan beristirahat sepanjang tahun.
Ada juga yang mampu menggali sendiri
Tidak semua penghuni lubang pohon hanya menunggu sarang jadi. Dua spesies chickadee, yaitu Black-capped dan Carolina chickadee, diketahui bisa membuat sarang pohonnya sendiri.
Burung kecil ini memilih lubang kecil terlebih dahulu, lalu memperluasnya dengan paruh. Sarang itu biasanya hanya dipakai sementara, lalu ditinggalkan, sebelum akhirnya dimanfaatkan hewan lain yang membutuhkan tempat berteduh.
Burung yang memilih kayu lebih lunak
Nuthatch juga termasuk burung penggali rongga pohon. Dua spesies yang umum, nuthatch berdada merah dan berkepala coklat, lebih suka bersarang di pohon aspen karena kayunya lebih lunak.
Burung ini teritorial saat mencari tempat tinggal. Mereka kerap mengusir spesies lain dari pohon yang dianggap cocok dan biasanya membangun sarang baru setiap tahun.
Tempat aman untuk malam dan musim dingin
Bagi kelelawar, pohon bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga area mencari makan karena serangga banyak tersedia di sekitarnya. Karena tidak bisa membuat lubang sendiri, kelelawar memakai celah yang sudah ada, termasuk lubang bekas hewan lain.
Pemilihan ruangnya juga mengikuti musim. Saat musim panas, kelelawar bisa memakai bagian kanopi yang lebih tinggi untuk menempatkan anaknya di suhu yang lebih hangat, sedangkan pada musim dingin mereka memilih lubang yang lebih dalam dan rendah untuk berhibernasi.
Lubang pohon sebagai benteng bagi burung hantu dan rakun
Burung hantu juga sangat bergantung pada rongga pohon, meski mereka tidak bisa membuatnya sendiri. Banyak burung hantu mendaur ulang sarang bekas burung pelatuk sebagai tempat tinggal karena ruang itu memberi perlindungan lebih baik dari cuaca dan membantu menjaga tubuh tetap hangat.
Satu pintu masuk membuat induk lebih mudah melindungi anaknya dari predator. Rakun pun memanfaatkan lubang pohon dengan cara yang serupa, tetapi lebih oportunis karena mereka akan segera memakai rongga yang nyaman dan biasanya menyimpan beberapa sarang cadangan.
Pada akhirnya, lubang pohon menjadi ruang penting bagi banyak spesies untuk bertahan hidup. Dari tempat tidur, lokasi membesarkan anak, hingga perlindungan dari ancaman di alam liar, rongga kecil di batang pohon itu punya peran besar bagi kelangsungan hidup satwa.
Source: www.idntimes.com






