PT Vale Indonesia Tbk. mendapatkan fasilitas pinjaman sindikasi senilai US$750 juta dari 14 institusi perbankan untuk mendorong percepatan tiga proyek nikel strategis. Fasilitas ini setara sekitar Rp12,96 triliun dan menjadi salah satu langkah pendanaan terbesar yang menopang ekspansi perusahaan di Sulawesi.
Pendanaan tersebut tidak diberikan dalam skema biasa, melainkan melalui sustainability linked loan atau SLL. Artinya, pencairan dan pengukurannya dikaitkan langsung dengan target keberlanjutan, terutama pada aspek emisi dan penggunaan energi yang lebih bersih.
Pembiayaan diarahkan ke tiga proyek utama
Dana pinjaman ini dibagi ke tiga lokasi pengembangan dengan porsi yang sudah ditentukan. Sebanyak 50 persen dialokasikan untuk Pomalaa, 30 persen untuk Morowali, dan 20 persen untuk Sorowako Limonite.
Pembagian itu menempatkan Pomalaa sebagai proyek dengan prioritas terbesar. Proyek tersebut memiliki nilai investasi total US$4,5 miliar dan dikerjakan bersama Ford serta Huayou.
Pomalaa jadi fokus terbesar
Di antara tiga proyek tadi, Pomalaa tampil sebagai yang paling menonjol dari sisi alokasi dana dan kemajuan konstruksi. Hingga April 2026, pembangunan pabrik pengolahan nikelnya sudah mencapai 65 persen.
Capaian itu membuat Pomalaa berada pada posisi penting dalam portofolio pengembangan Vale saat ini. Proyek ini juga berkaitan erat dengan dorongan hilirisasi nikel yang sedang diperkuat perusahaan.
Morowali dan Sorowako ikut dipercepat
Selain Pomalaa, Vale juga menggenjot proyek Morowali yang dikerjakan bersama GEM dan EcoPro. Smelter tersebut sudah mencapai progres 27 persen dan dirancang memiliki kapasitas 66.000 ton per tahun.
Sementara itu, proyek Sorowako Limonite telah mencapai progres pembangunan tambang sebesar 42 persen. Area ini disiapkan untuk mendukung produksi 60.000 ton mixed hydroxide precipitate atau MHP per tahun.
Syarat emisi menjadi bagian penting dari pembiayaan
Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menyebut fasilitas ini sebagai langkah penting untuk menyelaraskan pembiayaan dengan agenda dekarbonisasi perusahaan. Ia menegaskan Vale tetap ingin menghasilkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon yang lebih rendah.
Bernardus juga mengatakan pendanaan ini mendukung hilirisasi nasional dan transisi energi global. Pernyataan itu ia sampaikan di Jakarta Selatan saat penandatanganan kerja sama, dengan menempatkan pembiayaan ini sebagai bagian dari upaya menghubungkan strategi keuangan dan target lingkungan jangka panjang.
Struktur SLL yang digunakan Vale membawa indikator kinerja utama yang ketat. Keberhasilan pembiayaan ini dinilai dari penurunan intensitas emisi karbon dan meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan dalam operasional tambang.
Kebutuhan modal belum berhenti
Chief Financial Officer INCO, Rizky Andhika Putra, menjelaskan bahwa fasilitas baru ini belum menutup seluruh kebutuhan ekspansi Vale. Ia menilai dana tersebut cukup untuk kebutuhan tahun ini, tetapi kebutuhan tambahan masih bisa muncul seiring proyek berjalan.
Pernyataan itu menunjukkan skala ekspansi Vale masih besar dan berlangsung paralel di beberapa lokasi. Dengan tiga proyek yang dikerjakan bersamaan, perusahaan masih perlu menjaga ruang pendanaan untuk tahap berikutnya.
Di tengah dorongan hilirisasi dan kebutuhan nikel untuk transisi energi, fasilitas sindikasi senilai Rp12,96 triliun ini memberi ruang bagi Vale Indonesia untuk menjaga laju pengembangan Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonite sambil tetap memenuhi syarat emisi yang lebih ketat.
