Koneksi yang terus menyala di media sosial belum tentu menghilangkan rasa terisolasi pada Generasi Z. Interaksi melalui layar dapat memperluas percakapan, tetapi tidak selalu menghadirkan kedekatan emosional yang dibutuhkan seseorang.
Situasi itu membuat ruang keempat atau fourth place semakin relevan bagi anak muda. Ruang ini memberi kesempatan untuk berhenti sejenak dari gawai, berbagi cerita, dan membangun relasi secara langsung.
Koneksi Tidak Hanya Soal Akses
Kesepian digital tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pengikut atau ramainya percakapan daring. Perasaan tersebut dapat muncul ketika hubungan yang tersedia tidak menghadirkan makna dan kedekatan yang cukup.
Mental Health Counselor Sasya Sava menilai Gen Z membutuhkan ruang untuk merasakan koneksi yang lebih nyata. “Gen Z butuh makna, bukan hanya koneksi semata,” ungkapnya.
Pertemuan fisik memungkinkan orang menangkap gestur, respons, serta nuansa percakapan yang sulit sepenuhnya digantikan teknologi. Kehadiran langsung juga dapat membuat kebersamaan terasa lebih berbobot secara emosional.
Bagi anak muda, kondisi itu penting karena kehidupan digital kerap menempatkan mereka dalam arus komunikasi tanpa henti. Namun, akses untuk saling melihat dan merespons di layar tidak selalu sama dengan kesempatan untuk benar-benar hadir bersama.
Ruang Berdasarkan Minat Bersama
Konsep ruang keempat diperkenalkan ahli geografi ekonomi Arnault Morisson pada 2018. Gagasan ini merujuk pada ruang yang dirancang sebagai pelarian sehat dari kepenatan sekaligus tempat menemukan kelompok yang sefrekuensi.
Ruang tersebut bukan sekadar tempat berkumpul dalam suasana ramai dan umum. Dasarnya adalah minat yang lebih spesifik sehingga anggotanya memiliki titik awal percakapan yang sama.
Bentuknya dapat hadir melalui komunitas lari, pencinta kecantikan, atau kelompok journaling. Kesamaan ketertarikan membuat anggota lebih mudah membicarakan antusiasme, pengalaman, hingga keluh kesah pribadi.
Sasya mengatakan ruang komunitas memberi tempat bagi orang untuk berkoneksi sekaligus mencurahkan isi hati. Dalam keterangan yang dikutip lifestyle.kompas.com, ia menyebut, “Ini sebuah tempat yang memang diperuntukkan untuk kita berkoneksi.”
Pertemanan Bisa Dimulai dari Dunia Maya
Ruang keempat tidak selalu harus berupa organisasi formal atau lokasi tertentu. Sekelompok orang yang semula berkenalan di media sosial pun dapat membangunnya ketika memutuskan untuk bertemu di dunia nyata.
Pertemuan semacam itu membuka peluang membangun pertemanan di luar rumah, sekolah, maupun tempat kerja. Rasa aman dapat tumbuh ketika seseorang berada di tengah orang-orang yang memahami ketertarikan serupa.
Interaksi tatap muka juga dapat menjadi jeda dari tekanan untuk terus menampilkan diri di internet. Anak muda memiliki kesempatan untuk berkomunikasi tanpa semata-mata bergantung pada identitas digital yang dibentuk di media sosial.
Jeda untuk Menjaga Keseimbangan
dr. Iksanuddin Qothi mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan masyarakat di sekitarnya untuk bergerak bersama. Terlalu fokus pada media sosial secara sendirian, menurutnya, berpotensi memicu burnout dan berujung pada stres.
“Kalau misalkan kita terlalu fokus di media sosial sendiri-sendiri, itu bisa bikin burnout dan ujung-ujungnya jadi stres,” kata dr. Iksan. Pandangan tersebut menempatkan interaksi langsung sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan sosial dan emosional.
Kebiasaan berkumpul juga dapat membantu meredam dorongan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Mendengarkan perjalanan hidup orang lain secara langsung memberi perspektif yang lebih luas terhadap proses pribadi.
Xaviera menekankan perlunya mengambil jarak dari identitas digital yang mendominasi keseharian. “Kadang kita butuh mematikan digital self kita, bertemu orang lain, dan keluar dari ruangan yang mengisolasikan diri kita sendiri, yaitu pikiran kita,” pungkasnya.







