Museum Wayang di Kota Tua Jakarta menghadirkan ruang imersif 360 derajat yang mengubah cara pengunjung menikmati cerita pewayangan. Visual dan audio di ruang ini membuat koleksi tradisi terasa lebih dekat tanpa biaya tambahan.
Pengalaman tersebut menjadi kontras dengan anggapan bahwa museum identik dengan ruang gelap, pengap, dan menyeramkan. Di museum ini, teknologi dipakai untuk mengajak pengunjung masuk ke cerita sekaligus memahami wayang sebagai media penyampai nilai dan ajaran.
Registrasi dan Jadwal Ruang Imersif
Pengunjung perlu melakukan registrasi sebelum memasuki Ruang Imersif, Arena Interaktif, dan Ramp Interaktif. Setelah itu, pengunjung masuk berdasarkan kloter yang dibuka setiap 30 menit.
| Hari Kunjungan | Jadwal Ruang Imersif | Interval Kloter |
|---|---|---|
| Selasa–Jumat | 09.30–15.00 WIB | Setiap 30 menit |
| Sabtu–Minggu | 09.30–18.00 WIB | Setiap 30 menit |
Di area lain, layar sentuh menyediakan materi audio visual mengenai persebaran wayang di Indonesia. Pengunjung dapat memilih informasi tentang Wayang Potehi, Wayang Palembang, Wayang Papua, hingga Wayang Sasak.
Peta lokasi dan teks yang mengikuti audio membantu pengunjung mempelajari ragam tradisi tersebut secara mandiri. Kehadiran media digital ini menempatkan koleksi wayang dalam konteks Nusantara yang lebih luas.
Koleksi dari Berbagai Daerah dan Negara
Koleksi museum memperlihatkan bahwa wayang berkembang melampaui Pulau Jawa. Di antara jenis yang dipamerkan terdapat Wayang Golek Menak dari Kebumen dan Pekalongan, Wayang Golek Pakuan Bogor, serta Wayang Golek Cepak Cirebon.
Museum Wayang juga menyimpan Wayang Klithik yang dibuat dari lapisan kayu tipis. Nama tersebut berasal dari bunyi “klithik klithik” ketika bagian kayunya saling beradu saat dimainkan.
CNN Indonesia menyebut koleksi di museum ini turut mencakup wayang dan boneka dari India, Ceko, Suriname, Kamboja, Swedia, Amerika Serikat, Korea Selatan, Sri Lanka, Inggris, Prancis, Rusia, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Ragam benda tersebut menunjukkan perkembangan pertunjukan boneka dan wayang yang mengikuti budaya setempat.
Di antara koleksi dengan latar khusus terdapat Wayang Wahyu, yakni wayang kulit yang diciptakan Broeder Timotheus Wignyosubroto dari Surakarta pada 1959. Wayang ini kemudian dibuat oleh dalang Rusradi pada 1960 untuk menyebarkan ajaran agama Katolik.
Kontras lain tampak pada Wayang Revolusi atau Wayang Perjuangan. Tokohnya memakai figur era perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk Soekarno dan Mohammad Hatta, dengan busana modern.
Bangunan yang Menyimpan Lapisan Sejarah
Sebelum menjadi Museum Wayang, bangunan ini pernah menjadi gereja bernama oude hollandsche kerk atau Kruiskerk yang berdiri pada 1632. Setelah bangunan itu rusak, gereja baru di lokasi yang sama diresmikan pada 1736.
Bangunan gereja tersebut dibongkar dan dijual pada 1808 setelah terdampak gempa, lalu dipakai sebagai gudang. Fungsinya berubah menjadi Museum Kota atau Stedelijk Museum pada 1939 dan Museum Jakarta Lama pada 1962.
Museum Wayang kemudian berdiri pada 13 Agustus 1975. Jejak masa silamnya masih terlihat melalui nisan dan taman kosong di salah satu bagian kompleks.
Kawasan gereja dahulu memiliki pemakaman Belanda bagi tokoh VOC, keluarga, dan serdadu. Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen disebut dimakamkan di area itu pada 1627–1629.
Lorong depan museum menyambut pengunjung dengan patung besar Ramawijaya, Rahwana, dan Duryudana. Bagi pemilik Museum Passport, tersedia pula tiga desain stempel yang dapat diminta kepada petugas.
Source: www.cnnindonesia.com






