Kinerja Garuda Indonesia Group di kuartal I 2026 menunjukkan perbaikan yang terasa di sisi pendapatan sekaligus kerugian. Pendapatan usaha konsolidasian naik menjadi 762,35 juta dollar AS, sementara rugi bersih turun 45,2 persen menjadi 41,62 juta dollar AS.
Peningkatan itu menjadi sinyal bahwa penguatan trafik dan disiplin operasional mulai memberi dampak ke laporan keuangan. Di saat yang sama, perseroan juga menjaga ritme penerbangan lewat penambahan frekuensi, perbaikan ketepatan waktu, dan penguatan armada serviceable.
Pendapatan dan rugi bersih bergerak ke arah yang lebih baik
Garuda Indonesia Group mencatat pendapatan usaha konsolidasian 762,35 juta dollar AS pada kuartal I 2026. Angka itu naik 5,36 persen dibandingkan 723,56 juta dollar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontributor terbesar masih datang dari pendapatan penerbangan berjadwal yang tumbuh 7,36 persen menjadi 648,10 juta dollar AS. Sementara itu, rugi bersih perseroan menyusut dari 75,93 juta dollar AS menjadi 41,62 juta dollar AS.
Perubahan ini menunjukkan perbaikan bisnis berjalan beriringan dengan upaya efisiensi. Tekanan rugi yang lebih kecil memberi ruang lebih besar bagi perseroan untuk memperkuat fondasi usaha.
Jumlah penumpang naik di dua merek layanan
Dari sisi trafik, Garuda Indonesia Group mengangkut 5,42 juta penumpang sepanjang kuartal I 2026. Jumlah itu naik 6,76 persen dibandingkan 5,08 juta penumpang pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total tersebut, Garuda Indonesia melayani 2,47 juta penumpang. Citilink menyumbang 2,94 juta penumpang dalam periode yang sama.
Kenaikan penumpang terjadi di tengah penguatan trafik dan peningkatan kapasitas produksi penerbangan. Kondisi itu ikut menopang perbaikan kinerja operasional perusahaan secara keseluruhan.
Frekuensi terbang dan ketepatan waktu ikut membaik
Pada periode yang sama, frekuensi penerbangan Garuda Indonesia Group meningkat 5,87 persen menjadi 19.337 penerbangan. Pada kuartal I 2025, jumlah penerbangan tercatat 18.265 penerbangan.
Perseroan juga membukukan on time performance 91,01 persen. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan 87,93 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dua indikator tersebut penting karena menjadi penopang kepercayaan pelanggan. Dalam bisnis maskapai, frekuensi yang lebih tinggi dan ketepatan waktu yang lebih baik kerap berjalan seiring dengan kualitas layanan serta efisiensi operasional.
Armada serviceable bertambah bertahap
Hingga akhir kuartal I 2026, Garuda Indonesia Group mengoperasikan 102 armada serviceable. Penambahan ini menjadi bagian dari akselerasi program return-to-service aircraft yang dijalankan bertahap.
Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan kapasitas penerbangan di tengah kenaikan permintaan. Kesiapan armada menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga ketersediaan kursi dan stabilitas operasional.
Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan menilai capaian kuartal ini sebagai sinyal positif atas penguatan fundamental operasional dan bisnis. Ia menyebut proses transformasi yang dijalankan mulai menunjukkan progres positif secara bertahap.
Glenny menegaskan fokus perseroan tetap berada pada operational discipline, service reliability, dan pertumbuhan bisnis yang lebih sehat serta sustainable. Upaya itu dilakukan lewat operational excellence, cost discipline, optimalisasi jaringan penerbangan, transformasi layanan, dan digitalisasi operasional secara berkelanjutan.
Menurut Glenny, transformasi yang berjalan merupakan proses rebuilding fundamentals secara menyeluruh. Garuda Indonesia Group ingin memastikan pertumbuhan ke depan bertumpu pada fondasi bisnis yang lebih sehat, agile, dan sustainable dalam jangka panjang.
Di tengah hasil kuartalan tersebut, Garuda Indonesia juga melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Tahun Buku 2025 pada Rabu (13/5/2026). Keberlanjutan penguatan operasional dan perbaikan kinerja menjadi perhatian utama saat perseroan menjaga momentum pertumbuhan pada kuartal berikutnya.
Source: money.kompas.com






