Bulan purnama pada akhir Mei menjadi sorotan karena disebut sebagai micromoon paling jauh pada tahun tersebut. Pada momen itu, Bulan berada lebih jauh dari Bumi sehingga tampak sedikit lebih kecil dan lebih redup dibanding purnama yang muncul saat jaraknya lebih dekat.
Fenomena ini menarik perhatian pengamat langit karena ukuran Bulan di langit tidak selalu sama. Orbit Bulan tidak berbentuk lingkaran sempurna, sehingga jaraknya dari Bumi terus berubah dari satu fase ke fase berikutnya.
Mengapa disebut micromoon
Micromoon adalah istilah untuk bulan purnama atau bulan baru yang terjadi saat Bulan berada dekat titik terjauhnya dari Bumi, atau apogee. Kondisi ini kebalikan dari supermoon, yang muncul saat Bulan berada dekat perigee.
Saat supermoon terjadi, Bulan tampak lebih besar dan lebih terang dari biasanya. Sebaliknya, micromoon membuat Bulan terlihat sedikit mengecil dari sudut pandang pengamat di Bumi.
Perbedaan ukuran yang terlihat
Bulan mengelilingi Bumi dalam siklus sekitar sebulan, tetapi jaraknya tidak pernah benar-benar tetap. Ketika posisinya mendekati apogee, diameter tampaknya mengecil karena jaraknya lebih jauh dari pengamat di permukaan Bumi.
EarthSky menyebut micromoon penuh bisa terlihat sekitar 12 hingga 14 persen lebih kecil dibanding supermoon penuh. Jika dibandingkan dengan bulan purnama pada jarak rata-rata, ukurannya tampak sekitar 7 persen lebih kecil.
Mei menghadirkan dua kandidat purnama jauh
Bulan Mei menjadi perhatian karena memunculkan dua kandidat micromoon penuh. Satu sumber menghitung Full Flower Moon pada 1 Mei sebagai micromoon, sementara sumber lain tidak memasukkannya karena dinilai belum cukup jauh.
Sumber yang sama juga menyebut Blue Moon pada 30-31 Mei sebagai micromoon. Bahkan, fase ini dicatat sebagai full moon paling jauh pada tahun tersebut.
Kenapa jumlahnya bisa berbeda
Jumlah micromoon dalam setahun tidak selalu sama di setiap acuan. Hal itu terjadi karena belum ada batas baku yang seragam untuk menentukan kapan sebuah purnama layak disebut micromoon.
EarthSky mencontohkan ada sumber yang menghitung tiga micromoon penuh pada tahun ini, yakni Flower Moon 1 Mei, Blue Moon 30-31 Mei, dan Strawberry Moon 29 Juni. Namun, Timeanddate.com hanya memasukkan dua micromoon penuh, yaitu 31 Mei dan 29 Juni.
Perbedaan itu muncul karena masing-masing sumber memakai ambang jarak yang berbeda. Astropixels, misalnya, mendefinisikan micromoon sebagai fase bulan baru atau purnama yang terjadi dekat apogee, sedangkan Timeanddate.com memakai batas jarak pusat Bulan lebih dari 405.000 kilometer dari pusat Bumi.
Seberapa jauh Bulan saat micromoon
Blue Moon pada 30-31 Mei disebut berada sekitar 252.360 mil atau 406.135 kilometer dari Bumi. Angka itu lebih jauh dibanding jarak rata-rata Bulan sekitar 238.900 mil atau 384.472 kilometer.
Selisih jarak inilah yang membuat Bulan tampak lebih kecil saat diamati dari Bumi. Perbedaan itu mungkin tidak langsung terasa oleh mata, tetapi perbandingan foto dari komunitas EarthSky menunjukkan ukurannya memang lebih kecil dibanding supermoon.
Bukan hanya purnama, bulan baru juga bisa masuk kategori ini
Micromoon tidak hanya berlaku untuk bulan purnama. Bulan baru juga bisa masuk kategori ini jika terjadi saat Bulan berada dekat apogee.
EarthSky mencatat ada satu new micromoon dalam periode yang dibahas, yaitu pada 9 Desember. Saat itu, Bulan disebut sebagai new moon paling jauh pada tahun tersebut dengan jarak sekitar 251.460 mil atau 404.687 kilometer dari Bumi.
Fenomena ini sering luput dari perhatian karena perubahan ukuran Bulan tidak selalu mencolok. Namun bagi pengamat langit, micromoon tetap menjadi pengingat bahwa jarak Bulan ke Bumi terus berubah dan ikut memengaruhi bagaimana Bulan tampak dari Bumi.
Source: earthsky.org






