Keputusan BI Mengubah Arah Rupiah, Tiga Pendorong Ini Bikin Pasar Berbalik

Author: Redaksi Android62

Rupiah akhirnya meninggalkan level Rp18 ribu setelah sempat nyaris menembus Rp18.200 per dolar AS. Pada perdagangan Rabu, mata uang Indonesia ditutup di Rp17.944 per dolar AS, menguat 114 poin atau 0,63 persen.

Pergerakan itu belum sepenuhnya stabil karena pada Kamis sore rupiah sempat kembali tertekan ke Rp17.988 per dolar AS. Kondisi tersebut menunjukkan pasar masih bergerak dinamis meski sentimen yang muncul belakangan cenderung lebih mendukung.

BI Rate jadi pemicu utama

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah terutama dipicu keputusan Bank Indonesia yang menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Menurut dia, langkah mengejutkan itu langsung memperbaiki sentimen pasar terhadap rupiah.

Lukman menjelaskan, sinyal dari bank sentral juga memberi ruang lebih besar bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga bila dibutuhkan. Ia menilai kebijakan itu membuat pelaku pasar membaca arah otoritas moneter sebagai lebih tegas dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Rapat mingguan BI ikut memperkuat kesan bahwa bank sentral memiliki kelonggaran untuk mengetatkan kebijakan lebih lanjut. Dalam pandangan Lukman, faktor tersebut menjadi alasan mengapa rupiah bisa berbalik menguat setelah sempat berada di bawah tekanan.

BBM nonsubsidi ikut memberi efek ke pasar

Selain faktor moneter, pasar juga merespons kebijakan pemerintah yang menaikkan harga Pertamax. Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax RON 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, atau bertambah Rp3.950 per liter.

Lukman menilai kebijakan itu memberi sentimen positif karena berpotensi mengurangi tekanan terhadap anggaran negara. Dari sisi pasar, langkah tersebut membantu memperbaiki persepsi bahwa beban fiskal dapat menjadi lebih ringan.

Di luar itu, pengamat pasar uang Ariston Tjendra menduga ada intervensi otoritas yang ikut menopang rupiah. Ia melihat rupiah dan IHSG sama-sama menguat dalam waktu berdekatan, sehingga penguatan mata uang tidak hanya bertumpu pada suku bunga BI.

Ariston menilai intervensi tersebut kemungkinan dimaksudkan untuk mendukung efektivitas kenaikan suku bunga acuan yang diumumkan mendadak pada awal pekan. Dengan begitu, kebijakan moneter dan penjagaan pasar bergerak saling menguatkan.

Kepercayaan investor ikut membaik

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad juga ikut menyoroti penguatan rupiah. Ia mengimbau investor yang masih memegang dolar AS untuk mempertimbangkan melepas kepemilikannya, seraya menyebut kepercayaan terhadap pemerintah ikut menguat di pasar keuangan.

Dasco menilai sentimen positif itu menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah. Ia menyampaikan pandangan tersebut di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, ketika pasar sedang merespons kombinasi kebijakan dan kepercayaan yang dinilai lebih baik.

Tekanan terhadap rupiah sebelumnya memang sempat berat. Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Senin siang, rupiah berada di Rp18.196 per dolar AS atau melemah 0,89 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terbaru