Rupiah Masih Tertahan Di Awal Sesi, Dolar AS Sempat Menyentuh Rp 17.368

Dolar Amerika Serikat kembali bergerak lebih tinggi terhadap rupiah pada perdagangan Kamis pagi dan sempat menyentuh posisi Rp 17.368. Pergerakan tipis itu tetap cukup untuk menahan rupiah di area yang rapuh sejak pembukaan pasar.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS naik 42 poin atau 0,24 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Dengan kenaikan tersebut, kurs masih bertahan di kisaran Rp 17.300-an dan menunjukkan tekanan pada rupiah belum mereda di awal sesi.

Rupiah masih berada dalam tekanan pembukaan

Kenaikan dolar yang terjadi memang tidak besar, tetapi arah pergerakannya tetap menjadi sinyal bahwa pasar rupiah belum mendapat dorongan kuat untuk bangkit lebih cepat. Di fase awal perdagangan, kondisi seperti ini kerap membuat nilai tukar bergerak mudah berubah mengikuti respons pelaku pasar.

Tekanan yang muncul pada pembukaan juga memperlihatkan bahwa rupiah masih sensitif terhadap perubahan kecil di pasar. Saat arus transaksi awal belum membentuk arah yang jelas, ruang untuk fluktuasi nilai tukar biasanya terbuka lebih lebar.

Arah dolar tidak seragam di pasar global

Menariknya, penguatan dolar terhadap rupiah tidak diikuti gerak yang sama di seluruh pasar mata uang utama. Pada saat yang sama, dolar AS justru melemah terhadap beberapa pasangan mata uang besar lainnya.

Data yang sama menunjukkan dolar AS turun 0,08 persen terhadap yen Jepang. Selain itu, dolar AS juga melemah 0,13 persen terhadap dolar Australia, lalu turun 0,05 persen terhadap dolar Singapura.

Pelemahan juga tercatat terhadap yuan China dan poundsterling. Kondisi ini menandakan bahwa penguatan dolar pagi itu tidak berlangsung merata, sehingga tekanan pada rupiah tidak bisa langsung dibaca sebagai dominasi dolar secara menyeluruh di pasar internasional.

Euro menjadi pengecualian kecil bagi dolar

Di tengah pelemahan terhadap sejumlah mata uang, dolar AS masih mencatat kenaikan tipis terhadap euro. Penguatannya hanya 0,02 persen, sehingga arah gerak dolar pada pagi itu terlihat belum solid di seluruh pasangan mata uang.

Pergerakan yang bercampur seperti ini penting dicermati karena pasar valuta asing sering bergerak berdasarkan dinamika masing-masing pasangan. Artinya, dolar yang naik terhadap rupiah belum tentu sedang kuat di semua lini perdagangan global.

Pasar masih menunggu sinyal yang lebih tegas

Kondisi pagi ini menunjukkan pasar masih berada dalam fase pencarian arah. Rupiah tetap berada di bawah tekanan, sementara dolar AS sendiri belum memperlihatkan pola penguatan yang benar-benar seragam.

Selama kurs dolar bertahan di area Rp 17.300-an, pelaku pasar masih akan memantau apakah rupiah mampu keluar dari tekanan awal atau justru tetap bergerak labil mengikuti sentimen yang masuk. Pada tahap pembukaan seperti ini, perubahan kecil saja bisa langsung memengaruhi posisi rupiah terhadap dolar AS.

Berita Terkait