Rupiah Melemah dan Minyak Dunia Tinggi, Harga BBM Nonsubsidi Makin Sulit Ditahan di SPBU

Author: Redaksi Android62

Harga BBM nonsubsidi di SPBU kian berada di bawah tekanan karena dua faktor utama bergerak ke arah yang sama: rupiah melemah dan harga minyak dunia tetap tinggi. Dalam kondisi seperti ini, ruang bagi badan usaha untuk menahan harga makin menyempit karena biaya impor energi ikut terangkat.

Pelemahan rupiah yang menembus Rp17.529 per USD membuat beban pembelian minyak dari luar negeri semakin besar. Di saat bersamaan, harga minyak dunia berada di USD105 per barel, jauh di atas asumsi yang dipakai pemerintah dalam APBN.

Indonesia masih mengandalkan impor minyak untuk menutup kebutuhan dalam negeri. Konsumsi masyarakat disebut mencapai 1,6 juta barel per hari, sehingga setiap perubahan kurs dan harga global cepat terasa pada biaya pasokan energi.

Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin, Profesor Hamid Paddu, menjelaskan bahwa minyak impor dibayar dengan dolar AS. Karena itu, ketika rupiah melemah, biaya pembelian bahan baku energi otomatis membengkak.

Hamid menilai pengaruh kurs sangat kuat terhadap harga BBM, terutama jenis nonsubsidi yang mengikuti mekanisme pasar. Saat biaya impor naik, penyesuaian harga di SPBU biasanya menjadi lebih cepat terlihat.

Tekanan pada harga BBM nonsubsidi juga makin berat karena asumsi dalam APBN tidak lagi sejalan dengan kondisi pasar. Dalam APBN 2026, nilai tukar diasumsikan Rp16.500 per USD dan harga minyak dunia dipatok USD70 per barel.

Kenyataan di pasar sudah melampaui dua patokan itu. Rupiah bergerak lebih lemah dari asumsi APBN, sedangkan harga minyak dunia bertahan jauh di atas level yang dipakai dalam perhitungan anggaran.

Kondisi tersebut membuat beban energi impor berpotensi naik lebih cepat bagi pelaku usaha maupun negara. Selama tren ini berlanjut, ruang untuk menahan harga BBM nonsubsidi akan tetap terbatas.

Hamid menilai wajar bila Pertamina kembali menaikkan harga BBM. Ia juga melihat pelemahan rupiah masih berpeluang berlanjut hingga akhir tahun, sehingga tekanan terhadap harga energi belum menunjukkan tanda mereda.

Harga BBM nonsubsidi sendiri tidak dicampuri pemerintah secara langsung. Selama lima tahun terakhir, badan usaha swasta dan Pertamina disebut selalu menyesuaikan harga jenis ini dengan perkembangan pasar.

Dalam mekanisme itu, kenaikan biaya bahan baku pada akhirnya harus tercermin ke harga jual. Hamid menyebut pasar sudah memahami pola tersebut, sehingga penyesuaian harga BBM nonsubsidi relatif tidak menimbulkan gejolak besar.

Dari sisi bisnis, menjaga harga saat biaya terus naik juga bisa menekan kesehatan keuangan perusahaan. Karena itu, keputusan penyesuaian harga sering kali berkaitan langsung dengan kemampuan badan usaha mempertahankan kondisi finansialnya.

Dengan konsumsi domestik yang tinggi dan produksi nasional yang belum mampu mengejar kebutuhan, impor masih menjadi penopang utama pasokan energi. Selama rupiah tetap tertekan dan harga minyak dunia tidak turun ke level asumsi, pasar BBM akan terus merasakan dampaknya.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru