Rupiah Melemah Ke Rp17.500, Pemerintah Siaga Menjaga Harga BBM Tetap Tahan Tekanan

Pemerintah belum memutuskan penyesuaian harga BBM meski tekanan dari pelemahan rupiah dan mahalnya minyak dunia terus membesar. Kondisi ini membuat perhatian tertuju pada rapat darurat yang digelar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama jajaran menteri terkait untuk membaca dampaknya terhadap anggaran energi.

Pembahasan itu muncul saat rupiah sempat tertekan hingga Rp17.540 per dolar AS, lalu bergerak tipis ke Rp17.493 per dolar AS pada Rabu pagi. Level tersebut tetap dipandang membebani biaya impor energi karena pembayaran dilakukan dalam dolar AS.

Di saat yang sama, harga minyak mentah internasional masih bertahan tinggi. Brent tercatat di posisi USD 106,95 per barel, sedangkan WTI berada di USD 101,52 per barel.

Kombinasi dua tekanan itu membuat pemerintah harus berhitung lebih hati-hati. Biaya energi impor ikut naik, sementara kebutuhan subsidi berpotensi membesar jika harga di dalam negeri dijaga tetap stabil.

Pembahasan lintas kementerian masih berjalan

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman membenarkan bahwa pembahasan lintas kementerian sedang berlangsung. Ia menyebut rapat tersebut digelar untuk memitigasi dampak pelemahan rupiah terhadap sektor energi dan anggaran subsidi.

Laode menegaskan bahwa prosesnya masih berada di level menteri. Karena itu, ia meminta publik menunggu hasil pembicaraan sebelum pemerintah mengambil langkah berikutnya.

Sampai saat ini, belum ada keputusan soal kenaikan maupun penyesuaian harga BBM. Pemerintah masih memantau perkembangan kurs rupiah dan pergerakan harga minyak dunia sebelum menentukan kebijakan lanjutan.

Tekanan kurs dan minyak menambah beban fiskal

Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan. Efeknya langsung terasa pada ongkos impor energi yang harus dibayar dengan mata uang dolar AS.

Ketika rupiah melemah dan harga minyak tetap tinggi, ruang fiskal pemerintah ikut menyempit. Dalam situasi seperti ini, beban harga keekonomian energi cenderung terdorong naik dan membuat subsidi BBM lebih berat ditanggung negara.

Sorotan pemerintah juga tertuju pada level rupiah yang sempat menyentuh titik terendah di Rp17.540 per dolar AS. Angka itu menjadi pemicu kekhawatiran baru karena tekanan kurs datang bersamaan dengan harga energi global yang belum memberi ruang lega.

Harga minyak masih jauh dari asumsi APBN

Posisi harga minyak dunia saat ini juga berada jauh di atas asumsi makro APBN 2026. Pemerintah menetapkan asumsi harga minyak di USD 70 per barel, sementara harga pasar masih berada di atas USD 100 per barel.

Selisih yang lebar itu membuat beban anggaran semakin sensitif terhadap gejolak eksternal. Jika kondisi rupiah dan minyak mentah tidak membaik, kebutuhan subsidi berpotensi terus meningkat.

Meski begitu, pemerintah belum mengambil langkah tergesa-gesa. Situasi masih dipantau sambil menunggu hasil pembahasan antarkementerian yang dipimpin Bahlil, terutama untuk memastikan gejolak kurs tidak langsung memukul stabilitas harga BBM di dalam negeri.

Source: www.suara.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer