Kenaikan dolar AS ke level Rp 17.500 memicu arus warga ke money changer. Di tempat penukaran uang kawasan Menteng, Jakarta Pusat, transaksi jual beli dolar AS terlihat lebih ramai dari biasanya karena banyak orang menyesuaikan kebutuhan masing-masing.
Ramainya aktivitas itu tidak hanya datang dari mereka yang ingin memanfaatkan kurs. Ada warga yang membeli dolar untuk kebutuhan perjalanan ke luar negeri, sementara yang lain justru menjual dolar ke rupiah karena melihat momen yang dianggap menguntungkan.
Kebutuhan warga berbeda-beda
Di lapangan, tujuan setiap orang yang datang ke money changer tidak sama. Sebagian membawa kebutuhan keluarga, sebagian lain menyiapkan dana untuk dipakai di kampung halaman, dan ada pula yang sekadar mengatur simpanan di tengah kurs yang bergerak naik turun.
Pergerakan rupiah yang lemah membuat transaksi valuta asing tidak lagi sekadar soal mengejar untung. Bagi banyak warga, keputusan menukar uang asing lebih dipengaruhi kebutuhan praktis yang harus segera dipenuhi.
Stefani menjadi salah satu contoh pembeli dolar di tengah kondisi tersebut. Ia datang karena akan bepergian ke luar negeri, sehingga dolar AS menjadi kebutuhan utama untuk rencana perjalanannya.
Momentum yang dianggap pas
Di sisi lain, pelemahan rupiah justru dilihat sebagai kesempatan oleh sebagian warga yang memegang dolar. Mereka menunggu saat yang dirasa tepat sebelum menukar simpanan agar nilai yang diterima lebih optimal.
Fonda termasuk yang memanfaatkan kondisi itu. Ia baru kembali dari perjalanan kerja sebagai pelaut di Amerika Serikat dan Taiwan, lalu menukarkan dolar AS ke rupiah sebelum pulang ke Lampung.
Menurut Fonda, kurs saat ini terasa lebih menguntungkan untuk penukaran. Ia menilai selisih sekitar Rp 200 hingga Rp 300 per dolar sudah terasa signifikan, terutama jika jumlah uang yang ditukar cukup besar.
Rupiah lemah, pasar ikut bergerak
Pelemahan rupiah juga membuat minat terhadap dolar ikut naik. Dalam situasi seperti ini, sebagian warga melihat dolar sebagai simpanan yang lebih aman untuk menjaga nilai uang, terutama ketika inflasi menjadi perhatian.
Fonda menyebut pergerakan rupiah saat ini lebih fluktuatif dibanding masa pandemi Covid-19. Meski dirinya diuntungkan oleh penguatan dolar, ia berharap rupiah tetap stabil karena pelemahan yang terlalu dalam bisa berdampak luas ke masyarakat.
Stefani juga melihat money changer biasanya lebih ramai saat rupiah tertekan. Menurutnya, dolar dianggap lebih stabil menghadapi inflasi, sehingga banyak orang memilihnya untuk kebutuhan perjalanan maupun pengaturan keuangan lain.
Transaksi tetap ditentukan kebutuhan harian
Aktivitas di money changer menunjukkan bahwa perubahan kurs tidak selalu dibaca dengan cara yang sama oleh masyarakat. Ada yang datang untuk menukar dolar ke rupiah demi kebutuhan hidup, dan ada pula yang membeli dolar karena harus segera berangkat ke luar negeri.
Situasi itu membuat pergerakan transaksi valuta asing sangat dipengaruhi tujuan masing-masing orang. Pada satu sisi, ada yang ingin mengunci nilai tukar saat dianggap menguntungkan, sementara di sisi lain ada yang tidak punya pilihan selain membeli dolar untuk kebutuhan mendesak.
Meski sempat menyentuh Rp 17.500 per dolar AS, rupiah akhirnya ditutup menguat pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,30% atau 53 poin menjadi Rp 17.475 per dolar AS, tetapi ramai-ramai warga di money changer tetap memperlihatkan betapa sensitifnya pasar terhadap pergerakan kurs.
Source: www.beritasatu.com






