Rupiah Sempat Tembus Rp 17.300, Airlangga Tegaskan Tidak Ada Rekayasa Demi Ekspor

Pemerintah menegaskan pelemahan rupiah tidak didorong oleh kebijakan sengaja untuk mendukung ekspor. Airlangga Hartarto menyebut Indonesia bukan negara yang melakukan praktik manipulasi kurs, di tengah sorotan Amerika Serikat terhadap dugaan serupa di sejumlah negara Asia.

Penegasan itu muncul saat rupiah masih berada di bawah tekanan dolar AS dan sentimen global yang belum mereda. Di saat yang sama, pemerintah dan Bank Indonesia tetap menjaga koordinasi agar gejolak nilai tukar tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar bagi pasar.

Pemerintah ingin menjaga stabilitas, bukan melemahkan rupiah

Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia tidak mengambil langkah untuk sengaja memperlemah rupiah. Ia menegaskan hal itu saat menghadiri acara Roundtable Menakar Denyut Ekonomi di Tengah Gejolak Global di Jakarta Selatan.

“Indonesia tidak termasuk dalam negara tersebut. Jadi ini yang terus kita jaga,” kata Airlangga, merujuk pada kekhawatiran Amerika Serikat soal currency manipulation oleh beberapa negara Asia. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin menutup ruang spekulasi di pasar.

Menurut Airlangga, tekanan pada mata uang tidak hanya dirasakan rupiah. Ia menyebut yen Jepang juga ikut melemah, sehingga kondisi saat ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tekanan global yang memengaruhi banyak mata uang kawasan.

Koordinasi dengan Bank Indonesia tetap berjalan

Di tengah situasi pasar yang sensitif, pemerintah menyatakan koordinasi dengan Bank Indonesia akan terus dilakukan. Langkah itu diperlukan agar kebijakan yang diambil tetap adaptif terhadap perubahan eksternal yang datang dari luar negeri.

Airlangga menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi yang tidak bisa dilawan secara frontal. “Kalau flow-nya, anginnya headwind tentu kita tidak untuk menabrak, tapi dengan berbagai kebijakan,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah memilih pendekatan penjagaan stabilitas, bukan langkah yang justru memicu gejolak baru. Fokus utamanya tetap pada upaya meredam tekanan pasar dan menjaga rupiah agar tidak bergerak terlalu liar.

Rupiah masih bergerak sejalan dengan mata uang kawasan

Pandangan pemerintah juga diperkuat oleh penilaian Bank Indonesia. Lembaga itu menyebut pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional, sehingga tekanan yang terjadi belum bisa dibaca sebagai tanda adanya rekayasa kurs.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan rupiah masih bergerak mengikuti pola kawasan. “Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54%,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Dengan kondisi seperti ini, tekanan pada rupiah lebih banyak dipahami sebagai bagian dari dinamika pasar global. Hal itu juga membuat tuduhan bahwa rupiah sengaja dimainkan demi ekspor menjadi tidak sejalan dengan penjelasan pemerintah maupun Bank Indonesia.

Dolar AS tetap menjadi sumber tekanan utama

Tekanan terhadap rupiah terlihat saat nilai tukar sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS. Situasi itu muncul di tengah ketidakpastian global yang membuat banyak mata uang emerging market ikut melemah.

Data Bloomberg pada Selasa (28/4/2026) menunjukkan dolar AS berada di level Rp 17.239, menguat 28 poin atau 0,16 persen. Penguatan dolar AS menjadi faktor penting yang menambah tekanan pada rupiah dalam perdagangan saat itu.

Penguatan mata uang Amerika Serikat juga tercatat terjadi terhadap sejumlah mata uang lain. Dalam data yang sama, dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 0,07 persen, terhadap dolar Australia 0,10 persen, dan terhadap dolar Singapura 0,05 persen.

Tekanan serupa juga terlihat pada yuan China, pound sterling, dan euro pada sesi perdagangan yang sama. Pola itu memperlihatkan bahwa pelemahan rupiah berlangsung di tengah pasar yang sedang didominasi penguatan dolar AS, bukan dalam situasi yang berdiri sendiri.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut membuat stabilitas kurs menjadi isu penting karena berkaitan dengan kepercayaan pasar, biaya impor, dan arah kebijakan ekonomi. Di tengah tekanan eksternal yang masih kuat, pemerintah menegaskan bahwa perhatian utama tetap menjaga kestabilan nilai tukar di saat dolar AS masih dominan di pasar global.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer